Setiap tahun, tanggal 10 November merupakan peringatan Hari Pahlawan bagi bangsa Indonesia. Pada era pra kemerdekaan, sikap pahlawan dimaknai dengan mengangkat senjata untuk mengusir penjajah dari nusantara. Bahkan beberapa saat setelah proklamasi kemerdekaan, pahlawan masih dimaknai dengan siapa yang bisa membantu perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.

Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia, kata pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Bisa juga diartikan sebagai pejuang yang gagah berani. 

PAHLAWAN ITU BERANI BERSIKAP

Makna pahlawan identik dengan kata berani. Siapapun yang berani berjuang dalam membela kebenaran dan membawa kebaikan serta dampak positif bagi lingkungannya, orang tersebut dapat disebut sebagai pahlawan. 

Tema Hari Pahlawan pada tahun 2021 ini, menurut situs resmi Kementerian Sosial, adalah Pahlawanku, Inspirasiku. Makna dari tema ini adalah setiap insan masyarakat Indonesia memiliki semangat kepahlawanan dan tergerak hatinya untuk membangun negeri sesuai dengan potensi dan profesi masing-masing.

Pada era digital saat ini, menjadi pahlawan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan menjadi relawan. Some people say, Volunteer is the new hero

Pada pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak awal tahun 2020, seluruh penduduk dunia dapat melihat bagaimana relawan telah menjadi salah satu garda terdepan dalam penanganan pandemi. Baik relawan yang memiliki keahlian sebagai tenaga kesehatan maupun non tenaga kesehatan. Semua berjuang penuh keberanian memberikan waktu, tenaga, keahlian serta seluruh potensinya demi membangun negeri dan dunia ini agar tetap kuat dan tangguh menghadapi munculnya virus Covid-19.

Lalu, apakah menjadi relawan harus memiliki keahlian sebagai tenaga kesehatan dan menunggu situasi genting seperti pandemi? Tentu tidak. Kamu dapat menjadi relawan sosial kapanpun kamu mau, sesuai keahlian yang kamu miliki. 

INDONESIA NEGARA PALING BERJIWA RELAWAN SEDUNIA

Tahukah kamu, pada bulan Juli 2021, Charities Aid Foundation dalam World Giving Index menempatkan penduduk Indonesia menjadi penduduk yang paling dermawan sedunia. Ini berdasarkan riset yang dilakukan pada situasi pandemi di tahun 2020. Ternyata, kedermawanan bangsa Indonesia tetap tinggi walaupun sedang dilanda pandemi yang juga mengguncang perekonomian seluruh dunia.

Kriteria penilaian yang dikeluarkan oleh The Charities Aid Foundation mencakup 3 perilaku yang konsisten dilakukan: 

  1. Berdonasi
  2. Menolong Orang Asing
  3. Menjadi Relawan

Dalam laporan CAF World Giving Index 2021, penduduk Indonesia memiliki ranking pertama di seluruh dunia dalam indeks perilaku rutin berdonasi dan menjadi relawan. Ternyata bangsa Indonesia tidak hanya senang berbagi dalam bentuk uang dengan berdonasi, melainkan juga senang berbagi sebagian waktu dan tenaganya untuk menjadi relawan. Bahkan, nilai kerelawanan penduduk Indonesia berada 3 kali lipat di atas rata-rata penduduk dunia! 

Tidak hanya di tahun 2021, ternyata sikap gemar berbagi bangsa Indonesia ini sudah terbukti sejak lama. Dalam indeks perilaku dermawan tahun 2018, Indonesia pun menempati posisi pertama. Yang mengejutkan, beberapa negara yang berada di 5 besar bersama dengan Indonesia pada tahun 2018, ternyata pada tahun 2021 tidak lagi berada dalam 5 besar.

PANDEMI MENGURANGI KEBERANIAN MENJADI RELAWAN DI SELURUH DUNIA, KECUALI INDONESIA

Krisis ekonomi yang melanda sebagian besar negara di dunia telah menyebabkan sebagian besar penduduk dunia mengurangi pengeluaran untuk berdonasi dan mengurangi waktu serta keberanian untuk menjadi relawan. Namun, hal ini tidak terjadi di Indonesia. 

Prosentase keberanian dalam berbagi uang maupun barang untuk berdonasi dan berbagi waktu serta tenaga dalam menjadi relawan di Indonesia justru meningkat selama pandemi. Pada tahun 2021, Indonesia berada di peringkat pertama dengan skor 69, naik dari skor 59 yang didapatkan pada 2018, ketika juga berada di peringkat pertama. 

Jika pada tahun 2018 terdapat 53% penduduk Indonesia yang berbagi waktu dan tenaga untuk menjadi relawan, maka pada tahun 2021 meningkat menjadi 60% penduduk yang mau dan berani berbagi waktu dan tenaga untuk menjadi relawan.

Peningkatan yang sama juga terlihat pada aspek berbagi uang dan barang dalam bentuk berdonasi. Jika pada 2018, terdapat 78% penduduk Indonesia yang merelakan sebagian hartanya untuk berbagi dalam bentuk uang maupun barang, maka pada 2021 naik menjadi 83% lho! 

Waw, sungguh sebuah hal yang sangat membanggakan. Penduduk Indonesia sungguh punya kepedulian yang sangat tinggi. Baik sebelum terjadinya pandemi maupun pada saat terjadinya pandemi Covid-19. 

Eh, tapi kira-kira apa ya yang menyebabkan Indonesia bisa stand out, in a good way? Bukan hanya kita, Charities Aid Foundation pun juga penasaran dan melakukan sedikit penelusuran lebih lanjut. Ini beberapa hasil temuan mereka:

1 Kuatnya Keyakinan Agama Sebagai Pendorong

Dengan mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, tentunya ajaran nilai Islam telah mengakar kuat. Zakat, Infaq dan Sedekah (ZIS) adalah bentuk tradisional amal Islam yang dipraktekkan secara luas di Indonesia. Yang berarti, dari keseluruhan penghasilan yang didapatkan, terdapat sebagian yang perlu dialokasikan untuk ZIS yang akan didistribusikan kembali kepada yang membutuhkan.

Pembayaran Zakat sangat tinggi pada tahun 2020 sebagai respons terhadap pandemi. Di Indonesia, ada seruan dari otoritas agama Indonesia untuk menunaikan ZIS agar masyarakat dapat ikut serta membantu orang-orang di sekitar mereka yang mengalami kesulitan sebagai akibat dari kemerosotan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi. 

2. Tradisi Gotong Royong 

Tingkat kesukarelaan menjadi relawan di Indonesia mencapai angka 60%, ini lebih dari tiga kali rata-rata global. Sudah menjadi karakter bangsa Indonesia untuk gotong royong dan bahu membahu untuk saling membantu di seluruh pulau, etnis dan agama. Tidak hanya selama masa darurat, melainkan juga saat sehari-hari.

3. Transformasi digital 

Seperti di banyak negara lain, penggalangan dana selama pandemi di Indonesia mengalami kendala karena kebijakan social distancing dan situasi kondisi lain. Tetapi pembatasan ini diatasi melalui penggunaan platform penggalangan dana online

Menurut CAF, donasi online di Indonesia meningkat sebesar 72% selama pandemi. Dan bahkan sebelum pandemi, ada peningkatan nyata dalam jumlah sumbangan online untuk organisasi dan kampanye bertujuan baik menggunakan platform digital. Ini menjadi tren yang meningkat selama krisis.

Keterlibatan masyarakat dalam jumlah besar dengan donasi online juga difasilitasi melalui berbagai kampanye crowdfunding dan non government organization akar rumput yang berhasil mengumpulkan jutaan orang untuk saling membantu dan saling mendukung selama masa krisis saat pandemi Covid-19 berlangsung.

4. Keterlibatan Pemuda, Influencer dan Penggunaan Media Sosial 

Selama beberapa waktu terakhir, penduduk Indonesia telah melihat adanya peningkatan jumlah tokoh publik, Key Opinion Leader (KOL) dan influencer yang secara terbuka memperjuangkan berbagai kampanye filantropi.  Terdapat salah satu influencer terkemuka di platform Instagram yang secara sukarela mampu mengumpulkan hampir USD 500.000 dari followersnya hanya dalam waktu satu minggu untuk upaya bantuan Covid-19 pada akhir 2020. Waw, what a new way of being a hero.

Sebuah survei baru-baru ini di antara para donatur juga menemukan bahwa pemuda milenial (usia 24-39 tahun) adalah donatur yang paling sering memberikan donasi. Rata-rata pemuda milenial memberikan donasi 1,5 kali lebih sering setiap bulannya jika dibandingkan dengan kelompok usia lain. Sebuah kabar gembira bagi pemuda dan pemudi Indonesia: Kamu adalah pahlawan di negeri ini

JADI PAHLAWAN BAGI DIRI SENDIRI

Menjadi relawan tidak hanya menjadi pahlawan bagi orang lain, tapi juga menjadi pahlawan bagi diri sendiri. Wah, masa sih? Seperti apa bentuk menjadi pahlawan bagi diri sendiri? 

1. Mengasah Kepekaan Terhadap Sesama

Menjadi relawan sosial atau volunteer membantu melatih rasa kepekaan kamu terhadap sesama. Menjadi relawan yang terjun dalam isu apapun yang menarik perhatian dan selaras dengan keahlian kamu, dapat membuat kamu menjadi orang yang lebih peduli dan tahu bagaimana harus bersikap dalam berbagai situasi. Dengan mendedikasikan waktu sebagai relawan sosial, juga membuka kemungkinan lebih luas untuk mendapatkan teman baru, meningkatkan keterampilan sosial, dan memperluas jaringan.

2. Mengikis Rasa Cemas, Amarah, dan Stres

Dengan menjadi relawan, akan lebih banyak kesempatan untuk melakukan kontak sosial dengan membantu dan bekerja sama dengan orang lain. Hal ini akan membantu memperbaiki kondisi psikologis kamu, termasuk meredakan stres.

Saat melihat orang lain menjadi lebih bahagia karena sesuatu yang kamu lakukan, cepat atau lambat rasa cemas dan amarah yang mungkin tersimpan dalam jiwa dapat terurai dan menghilang.

3. Meningkatkan Kebahagiaan

Melihat langsung bagaimana reaksi orang lain yang terbantu oleh perbuatan kamu, dapat memicu hadirnya hormon kebahagiaan. Tentunya ini baik bagi kesehatan mental kamu.

4. Memperbaiki kualitas kesehatan fisik

Dilansir dari sehatq.com, berbagai penelitian telah menemukan bahwa individu yang aktif menjadi relawan memiliki risiko kematian yang lebih kecil dibandingkan yang tidak. Kabar gembira lain, menjadi relawan dapat menurunkan risiko penyakit jantung serta mengikis gejala nyeri kronis.

5. Memperoleh Pengalaman Baru

Pengalaman adalah hal yang tak ternilai harganya. Belajar di sekolah maupun perguruan tinggi dan di dunia kerja tentu dapat memberikan ilmu dan pengalaman yang berharga bagi diri kamu. Tapi pengalaman sebagai relawan sungguh berbeda dan tak terlukiskan rasanya. Cobain sendiri deh untuk tahu gimana nikmatnya menjadi relawan! 🙂

6. Melatih Softskill dan juga Hardskill

Siapa yang mengira bahwa mengasah softskill hanya bisa dilakukan di organisasi sekolah maupun kampus? Jika itu kamu, wah lebih baik buang segera pikiran itu jauh-jauh. Karena kamu bisa banget melatih softskill sekaligus hardskill yang kamu miliki dengan menjadi relawan!

Misalnya kamu memiliki keahlian di bidang fotografi, bisa banget kamu jadi relawan di yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan membantu mendokumentasikan setiap kegiatan belajar mengajar. Kamu bisa mengasah skill fotografi kamu sekaligus menambah portofolio. 

Tentunya kemampuan kamu dalam mengatur waktu dan bekerja sama dalam tim juga akan terasah dengan sendirinya dengan menjadi relawan.

Wah, ternyata dengan menjadi relawan, tidak hanya menjadi pahlawan bagi orang lain, tetapi juga menjadi pahlawan bagi diri sendiri di masa yang akan datang. 

PAHLAWAN DALAM PANDEMI

Menjadi pahlawan dalam situasi pandemi tidak hanya bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan. Kamu juga dapat menjadi pahlawan yang menginspirasi dengan menggunakan potensi apapun yang kamu miliki. 

Pandemi dan dampak ekonominya tampaknya tidak dapat mencegah orang Indonesia untuk berbagi, tetapi justru menyebabkan lebih banyak solidaritas dan sikap saling mendukung. Sejarah telah membuktikan, kondisi krisis seperti apapun tidak dapat menggoyahkan keberanian bangsa Indonesia untuk menolong sesama. Baik di masa pra kemerdekaan Republik Indonesia, maupun di masa pandemi Covid-19, karakter gotong royong dan kegemaran bangsa Indonesia untuk berbagi tetaplah kuat dan telah menginspirasi bangsa lain di seluruh penjuru dunia. 

Wah bangganya menjadi penduduk Indonesia! Memang darah pahlawan mengalir deras di seluruh anak bangsa. Dear pahlawan zaman now: Yuk, jadi relawan pembangun harapan!


  Kembali