Suatu hari Dian menerima panggilan dari Rinna, sahabatnya, di tengah malam. Rinna bercerita bahwa dia baru saja kehilangan gelang hadiah dari almarhum ayahnya sambil menangis terisak. 

“Oh, nggak apa-apa. Besok kan bisa kita beli lagi gelangnya. Lagian gelangnya kan juga udah jelek banget. Mungkin emang udah waktunya diganti. Sabar ya.” kata Dian. 

Tidak ada respon dari Rinna dan tidak lama dia memutus teleponnya dan Dian hanya bingung, lho, “kenapa dia matiin telponnya?”

Ada yang tahu apa yang membuat Rinna mematikan sambungan teleponnya?

Iya, Dian tidak menunjukkan rasa empati terhadap cerita sahabatnya yang sedang dalam keadaan sedih karena baru saja kehilangan gelang yang merupakan hadiah dari almarhum ayahnya. Dian tidak tahu jika Rinna sedang merasa sedih.

Dian merasa apa yang dikatakannya benar dan dapat membuat sahabatnya lebih tenang.  Dia berpikir sahabatnya kehilangan gelang dan solusi yang terlintas adalah membeli gelang baru untuk menggantikan gelang yang hilang. 

Padahal ini bukan tentang gelang yang dapat diganti dengan yang baru. Namun lebih kepada nilai dari gelang tersebut bagi sahabatnya. Jika saja Dian bisa lebih mendengarkan cerita Rinna dan lebih berempati, dia bisa membuat sahabatnya lebih tenang dan bukan malah memutus teleponnya. 

Nah, saat ini bukan hanya Dian saja yang kurang berempati, tapi banyak orang yang kurang berempati pada orang lain. Salah satu contohnya adalah kejadian viral tentang seorang Youtuber yang membuat konten prank dengan memberikan sembako yang berisi sampah kepada transpuan.

Padahal jika sebelum mengambil tindakan prank, youtuber tersebut berusaha untuk memahami dan mengerti apa yang akan dirasakan oleh transpuan tersebut, dia pasti akan memilih untuk tidak melakukan prank tersebut.  

Tapi sebenarnya apa sih empati itu? Yuk kita bahas tentang empati!

EMPATI

sumber: freepik.com

Empati adalah kemampuan untuk memahami perasaan dan pikiran orang lain dari perspektif orang lain dan menempatkan diri kita seolah kita  ada di posisi mereka. Empati membuat seseorang mampu mengerti emosi atau perasaan yang sedang dirasakan orang lain.

Dikutip dari Nancy Eisenberg penulis Empathy and Its Development, empati adalah kemampuan seseorang untuk menempatkan dirinya dalam posisi orang lain dan dapat merasakan bagaimana perasaan orang lain tersebut seolah kita ada di posisi mereka, namun tetap dapat mempertahankan jati diri kita sendiri.   

Mengapa Empati itu Penting Sekali?

Sebagai makhluk sosial yang tidak mampu hidup sendiri, kita memerlukan kemampuan untuk berempati kepada orang lain. Empati dapat membantu kita untuk bekerjasama dengan orang lain, membangun persahabatan, membuat keputusan dan ikut membantu saat kita melihat  seseorang diperlakukan dengan tidak adil atau dibully.  Kamu bisa baca artikel tentang bahaya Bullying di link ini ya.

Saat kita kurang berempati, kita tidak akan mampu untuk membangun dan menjaga hubungan interpersonal kita dengan keluarga, sahabat, kolega  dan akan menggiring hubungan kita menjadi tegang, tidak adanya kepercayaan, putusnya hubungan dengan orang lain. Akan sangat sulit bagi kita untuk menyelesaikan konflik, atau bekerjasama atau memperbaiki hubungan jika kita tidak memiliki empati untuk memahami orang lain. 

Seperti cerita Dian, bukan tidak mungkin dengan responnya terhadap cerita sahabatnya, persahabatan mereka yang sudah mereka jalani bertahun-tahun dapat rusak atau sahabatnya merasa kecewa dengan Dian. 

Tipe-Tipe Empati

freepik.com

Empati sendiri terbagi menjadi 3 tipe Empati, berikut penjelasannya:

  • Cognitive Empathy

Cognitive empathy merupakan kemampuan untuk mengerti keadaan mental seseorang dan berpikir respon apa yang harus dilakukan dalam situasi tersebut. 

Dengan cognitive empathy, saat berada dalam posisi Dian, setelah mendengar cerita sahabatnya yang kehilangan gelang dari almarhum ayahnya, Dian akan langsung membayangkan apa yang baru saja dialami sahabat Dian? Seberapa penting gelang itu bagi sahabat Dian? 

Cognitive empathy membuat kita selalu mempertimbangkan apa yang akan kita ucapkan dan lakukan setiap kali kita berhubungan dengan orang lain. Dengan cognitive empathy, kita mampu melihat situasi dari sudah pandang orang lain, bukan hanya dari sudut pandang kita. 

Untuk membangun cognitive empathy, setelah kita berinteraksi dengan orang lain, luangkan waktu untuk mempertimbangkan feedback yang diberikan oleh orang yang kita ajak berinteraksi atas sikap dan ucapan kita baik dari apa yang mereka tulis, ucapkan atau dari bahasa tubuh mereka.  

Dengan melakukan ini, kita dapat lebih mengerti kepribadian orang lain dan bagaimana mereka melihat apa yang kita pikirkan dan cara berkomunikasi kita. 

  • Affective Empathy atau Emotional Empathy

Affective Empathy atau disebut dengan empati emosional merupakan empati yang dapat membuat seseorang bisa merasakan emosi orang lain dan memberikan respon yang tepat atas emosi orang tersebut. 

Dengan affective empathy ini dapat membuat seseorang merasa khawatir dengan keadaan seseorang atau merasakan kesulitan yang dirasakan orang lain dan membuat kita mampu untuk membangun hubungan emosional dengan orang lain.

Cara untuk membangun affective empathy adalah dengan belajar mendengarkan orang lain. Disaat orang lain bercerita, dengarkan cerita mereka  dengan baik-baik. . 

Tahan keinginan untuk menghakimi orang tersebut atau situasi yang sedang dialaminya atau memotong ceritanya dan malah bercerita tentang pengalaman kamu saat kamu mengalami hal yang sama dengan dia atau malah memberikan solusi yang padahal mereka tidak meminta solusi dari kita. 

Yang harus kita lakukan adalah fokus mendengarkan dan pahami bagaimana perasaan mereka saat itu  dan mengapa mereka merasakan rasa itu? 

Salah satu contoh pengaplikasian affective empathy adalah misalnya saat sahabat kita kehilangan gelang hadiah peninggalan dari almarhum ayahnya, yang kita lakukan adalah mencoba untuk memahami bagaimana perasaan kehilangan sahabat kita dan mencoba untuk merasakan rasa kehilangan itu dengan mencoba mengingat bagaimana kita juga pernah ada di posisi kehilangan seperti sahabat kita. 

Karena berhubungan dengan merasakan emosi orang lain, emotional empathy memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya dengan emotional empathy, kita bisa memahami bagaimana emosi dan rasa yang dirasakan orang lain sehingga kita mampu untuk memberikan respon yang sesuai dengan apa yang sedang dirasakan oleh orang lain.

Kekurangannya adalah sangat memungkinkan bagi kita untuk ikut larut dalam emosi dan perasaan yang dirasakan oleh orang lain, namun tidak mampu untuk memberikan respon atas emosi atau perasaan tersebut. Jika dirasa tidak mampu memberikan respon yang tepat, maka sebaiknya kita mengungkapkan ke lawan bicara kita bahwa kita tidak tahu harus memberikan respon seperti apa atas perasaan yang sedang dia rasakan. Itu akan lebih baik daripada kita memberikan respon, namun tidak tepat yang akan memberikan efek yang tidak baik.

  • Compassionate empathy

Compassionate empathy berarti memiliki kemampuan lebih dari hanya sekedar mengerti dan mampu merasakan emosi dan perasaan orang lain, namun juga mampu membuat kita bergerak untuk membantu orang tersebut. 

Dengan compassionate empathy, kita akan mulai bertanya kepada lawan bicara kita “Apa yang bisa kita bantu?” atau jika mereka tidak mampu atau tidak mau untuk menjawab pertanyaan kita, kita akan bertanya pada diri kita sendiri “Bantuan apa yang saya perlukan kalau saya ada di situasi seperti ini?” atau “Apa yang dapat membantu saya?”

Misalnya, saat Dian mendengarkan cerita sahabatnya, dia mengerti betapa sedih sahabatnya saat itu dan dia pun dapat merasakan kesedihan sahabatnya itu. Kemudian, Dian akan bertanya ke sahabatnya, “apa yang bisa dia bantu?”

Tanda-Tanda Orang Yang Kurang Mampu Berempati

  • Mudah sekali mengkritik orang lain

Orang yang kurang berempati dapat dilihat dari mereka yang mudah sekali mengkritik orang lain. Suka sekali mencari-cari kesalahan orang lain. 

  • Tidak mampu mengontrol emosi

Orang yang mudah sekali marah hanya karena hal sepele merupakan salah satu tanda orang kurang berempati. 

  • Tidak peduli dengan perasaan orang lain

Orang yang tidak berempati tidak mempunyai kemampuan untuk membaca perasaan orang lain berdasarkan apa yang mereka katakan atau lakukan. 

  • Menyalahkan orang lain atas kesalahan mereka sendiri

Orang tanpa empati akan cenderung menyalahkan orang lain. Mereka menganggap orang lain bersikap sensitif yang berlebihan disaat mereka melakukan sesuatu yang menyakiti hati orang lain. 

  • Tidak mau mengakui kesalahan mereka

Mereka yang kurang berempati cenderung memiliki ego yang tinggi. Sulit bagi mereka untuk mengakui kesalahan mereka sendiri. 

  • Tidak suka melihat orang lain bahagia

Pernahkah kamu merasa  tidak suka saat melihat orang lain bahagia? Hati-hati, ini adalah salah satu tanda kamu kurang empati. 

  • Tidak mampu menjaga hubungan dengan orang lain

Orang yang kurang mampu berempati, tidak mampu menjaga hubungan baik dengan orang lain dan akan sering sekali berselisih dengan orang lain. 

 

Tips Untuk Menumbuhkan Kemampuan Berempati Pada Orang Lain

Tenang saja, empati bisa ditumbuhkan kok di dalam diri seseorang. Untuk dapat memiliki kemampuan berempati, kita dapat melatihnya. Berikut beberapa cara untuk menumbuhkan rasa empati di dalam diri kita: 

  • Listen Not Hear

Di dalam Bahasa Inggris, kata hear dan listen adalah suatu kegiatan yang memiliki arti sama namun berbeda. Keduanya sama-sama berarti dengar, namun saat kita hear, kita hanya mendengarkan tapi tidak menyimak. Sedangkan saat kita listen, berarti kita mendengarkan secara penuh dan memahami maksud dari orang yang berbicara. 

Meski pun mendengarkan memang sulit sekali dilakukan apalagi saat kita juga pernah mengalami kejadian atau merasakan rasa yang sama  dengan apa yang sedang diceritakan oleh orang lain. Pasti ada rasa ingin segera berbicara dan bercerita tentang pengalaman kita. 

Atau terkadang kita bukannya mendengarkan dan memahami apa yang diucapkan oleh orang lain, kita malah sibuk berpikir apa respon yang harus  kita berikan setelah lawan bicara kita selesai bercerita. Akhirnya membuat kita tidak dapat memahami perasaan  dan situasi dari sudut pandang lawan  bicara kita. 

Mulai sekarang, kita dapat melatih empati kita dengan belajar mendengarkan dan mulai perhatikan apa yang dimaksud oleh lawan bicara kita dan pahami emosi apa yang sedang mereka rasakan. 

freepik.com

  • Belajar Untuk Melihat Keadaan Dari Sudut Pandang Orang Lain

Saat melatih empati, kita dapat mengosongkan dulu diri kita. Fokus kepada apa yang sedang diucapkan oleh lawan bicara kita dan coba untuk melihat dari sudut pandang mereka. Bukan dari sudut pandang kita. 

Bayangkan bagaimana jika kita ada di posisi mereka? Kira-kira apa yang membuat mereka mengambil keputusan untuk melakukan suatu tindakan. 

Saat kita mampu untuk melihat keadaan dari sudut pandang orang lain, kita akan mampu untuk berempati kepada orang tersebut.

  • Rasa Ingin Tahu

Dengan rasa keingintahuan kita, kita mampu belajar berempati. Disaat kita mengajak orang untuk berbicara dan bertanya tentang pengalamannya, disaat itulah kita memberikan sinyal kepada  lawan bicara kita jika kita mau mendengarkan dan mengerti mereka. 

Dengan bertanya pada seseorang tentang diri mereka, hal ini dapat membuat mereka merasa ada dan didengarkan. Ini adalah cara menumbuhkan empati yang dapat kita latih. 

  • Berusaha untuk Tidak Memperbaiki

Saat seseorang bercerita tentang masalah yang sedang dia hadapi, kita cenderung ingin memberikan solusi atau saran atas masalah tersebut, padahal bukan itu yang dibutuhkan oleh orang tersebut. 

Meski pun niat kita baik, kita ingin menghibur mereka, memberikan solusi atau mengajak mereka untuk melihat sisi baik dari masalah tersebut. Namun ternyata hal ini dapat membuat orang lain merasa tidak terlihat dan tidak didengarkan karena kita tidak bisa mengerti apa yang sedang mereka rasakan. 

Hal yang dapat kita lakukan saat orang bercerita adalah berikan ruang bagi mereka untuk bercerita, lihat situasi dari sudut pandang mereka dan rasakan perasaan mereka. 

Jangan memberikan saran atau solusi jika tidak diminta oleh mereka. Atau jika memang mereka terlihat butuh bantuan, tawarkan bantuan apa yang dapat kita bantu. 

Ingat, kita tidak bertanggung jawab untuk memberikan  solusi atau menyelesaikan masalah mereka. Terkadang, seseorang hanya perlu tempat untuk mendengarkan dan memahami apa yang mereka rasakan. 

  • Jangan Langsung Mengambil Kesimpulan dan Menghakimi Orang Lain

Saat melihat kejadian, jangan langsung mengambil kesimpulan  dan menghakimi orang lain atas apa yang mereka alami. 

Misalnya, saat ada acara pertemuan dengan teman kita, ada 1 teman kita datang dengan 2 anaknya, bayi berusia 1 tahun dan balita berusia 4 tahun. Padahal sudah diinfokan jika tidak boleh bawa anak saat acara. 

Mungkin ada yang berpikir kok dia bawa anak sih? Duh, pasti ribet deh. Padahal dia memang tidak bisa meninggalkan anaknya di rumah karena tidak ada yang bisa menjaga anaknya di rumah. Kebetulan hari itu suaminya sedang bekerja. 

Suaminya menyarankan dirinya untuk tidak datang  karena kasihan jika istrinya harus berangkat sendiri dengan membawa dua anak balita, namun karena dia rindu sekali dengan sahabat-sahabatnya, dia meyakinkan dirinya untuk hadir. Meski pun dirinya sangat kesulitan. 

Daripada menghakimi atau mengambil kesimpulan sendiri, alangkah baiknya  jika kita melihat dari sudut pandang teman kita tersebut dan tawarkan bantuan padanya jika dia terlihat butuh bantuan. 

Demikian penjelasan tentang empati. Semoga dapat membantu ya dan membuat kita menjadi orang yang dapat lebih berempati kepada  orang lain. 

 

  

 

sumber: inc.com, verywellmind.com, psychologytoday.com, fairygodboss.com

 

 


  Kembali