Hari Stroke Sedunia diperingati setiap tanggal 29 Oktober sebagai upaya untuk meningkatkan awareness orang-orang tentang pentingnya pencegahan, perawatan dan dukungan bagi penderita stroke. 

Setiap tahunnya ada kasus baru penderita stroke sebesar 13,7 juta dan 5,5 juta kematian akibat stroke. Angka penderita stroke dan kematian akibat stroke paling banyak terjadi di negara dengan pendapatan rendah dan menengah, yaitu angka penderita stroke sekitar 70% dan kematian 87% terjadi  di negara tersebut. 

Penyakit stroke merupakan penyakit tidak menular yang terjadi saat pasokan darah ke otak terganggu atau berkurang karena adanya penyumbatan (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). 

Otak yang tidak mendapatkan asupan oksigen dan nutrisi melalui darah akan menyebabkan sel-sel pada sebagian area otak mati dan bagian tubuh yang dikendalikan oleh area otak yang mati atau rusak tidak dapat berfungsi dengan baik. 

Tahukah kamu jika stroke merupakan kondisi gawat darurat yang harus ditangani secepatnya karena sel otak dapat mati hanya dalam hitungan menit? 

Bahkan stroke saat ini menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia dan penyebab kematian terbesar kedua di dunia di tahun 2018. Selain dapat menyebabkan kematian, stroke seringkali membuat penderitanya mengalami hemiparesis. 

Apa itu Hemiparesis?

Hemiparesis merupakan keadaan dimana salah satu sisi tubuh, dari kepala hingga kaki mengalami kelemahan sehingga sulit digerakkan. Jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan kelemahan permanen dan kelumpuhan. Saat ini  8 dari 10 penderita stroke mengalami hemiparesis. 

Stroke = Penyakit Orang Tua?

Penyakit stroke identik dengan penyakit orang berusia 45 tahun ke atas karena faktor risiko penyebab penyakit stroke seperti hipertensi, penyakit jantung dan diabetes melitus yang lebih banyak diidap di usia tersebut. 

Tahukah kamu kalau saat ini stroke bukan lagi hanya milik orang tua?

Bahkan dalam 20 tahun terakhir, jumlah penderita stroke berusia di bawah 45 tahun meningkat tajam dibandingkan dengan yang berusia diatas 45 tahun. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi WHO karena dengan semakin banyak usia muda terkena stroke, maka akan mengurangi jumlah usia produktif yang dapat bekerja. 

Kenapa? Karena semakin banyak usia produktif terkena stroke, maka akan lebih banyak usia produktif yang mengalami disabilitas atau kelumpuhan akibat stroke. Artinya akan berkurang usia produktif yang dapat bekerja. 

Berdasarkan sebuah studi di tahun 2020, Sekitar 10% angka orang yang terkena stroke setiap tahunnya merupakan orang yang berusia dibawah 45 tahun yang terkena stroke dan angka ini terus meningkat setiap tahunnya. 

Penyebab Stroke pada Generasi Muda

Sebagian besar stroke yang dialami oleh generasi muda dibawah 45 tahun adalah stroke iskemik yang disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah. 

Dikutip dalam artikel JAMA Neurology di tahun 2017, George dan rekan penulis meneliti adanya peningkatan frekuensi stroke iskemik akut di kalangan generasi muda. Angka tingkat rawat inap karena stroke iskemik akut meningkat lebih dari 50 persen untuk pria dan wanita di usia 18 sampai 34 tahun. 

Stroke pada usia dibawah 45 tahun disebabkan oleh berbagai faktor, berikut beberapa faktor penyebab stroke pada generasi muda:

1. Penyakit yang diwariskan

Beberapa usia muda mengidap stroke yang disebabkan karena kondisi tubuh yang diwariskan dari orang tua dan keluarga. Diantaranya:

  • Gangguan darah

Beberapa mewarisi kondisi tubuh yang menyebabkan penggumpalan darah yang dapat meningkatkan risiko terkena iskemik stroke. 

Kondisi darah yang menggumpal ini dapat diturunkan ke anak dan dapat dideteksi. 

  • Gangguan jantung

Sebagian kecil stroke pada usia muda disebabkan oleh kondisi patent foramen ovale (PFO) jantung bawaan saat lubang (foramen ovale) yang ada di antara serambi jantung bagian kanan  dan kiri tidak menutup secara sempurna setelah bayi lahir. Di kondisi normal, foramen ovale ini akan menutup secara alami. 

Namun, bagi beberapa orang yang terlahir dalam keadaan patent foramen ovale dapat meningkatkan risiko terbentuknya gumpalan darah yang dapat memicu terjadinya stroke. 

Padahal 1 dari 4 orang memiliki lubang kecil di foramen ovale, namun banyak yang tidak tahu karena tidak pernah memeriksakan jantung mereka. 

  • Aneurisma Otak

Aneurisma Otak merupakan kondisi penonjolan dinding pembuluh darah arteri karena kelemahan dinding tersebut. Aneurisma dapat berbahaya karena dinding pembuluh darah ini sangat lemah dan dapat pecah  sehingga menyebabkan stroke perdarahan  atau stroke hemoragik, kerusakan otak bahkan kematian jika tidak segera ditangani. 

  • Penyakit ginjal polikistik

Gangguan ginjal ini dapat menyebabkan terbentuknya kista di dalam ginjal. Kista di dalam ginjal ini dapat menyebabkan gangguan pada pembuluh darah, termasuk darah tinggi dan aneurisma. 

2. Gaya Hidup Tidak Sehat

Faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena stroke adalah seseorang yang memiliki hipertensi (tekanan darah  tinggi), obesitas, kolesterol tinggi dan diabetes melitus yang disebabkan gaya hidup tidak sehat. 

Hipertensi dan obesitas disebut sebagai penyebab terbesar bagi penderita stroke di usia muda.

Generasi milenial yang lahir di tahun 1981-1996 seringkali dikaitkan dengan gaya hidup tidak sehat. Bahkan sejak tahun 2019, generasi milenial identik dengan sebutan kaum rebahan yang menghabiskan waktu dengan berbaring di atas kasur.

Sebenarnya apa saja yang dimaksud dengan gaya hidup tidak sehat?

Dilansir dari berbagai sumber, berikut beberapa contoh gaya hidup tidak sehat yang sering dilakukan oleh generasi milenial:

  • Pola makan tidak teratur 

Generasi milenial sebagian besar memiliki pola makan yang tidak teratur. Beberapa menunda makan karena merasa belum lapar hingga terlalu sibuk sehingga tidak memperhatikan waktunya makan. Atau terlalu fokus dengan pekerjaan hingga lupa untuk makan.

Padahal pola makan yang tidak teratur dapat menyebabkan gangguan pada sistem pencernaan, obesitas dan peningkatan kadar gula dalam darah. 

  • Suka Minuman Manis

Selain pola makan yang tidak teratur, kebebasan untuk membeli makanan sendiri yang didukung dengan kemudahan penggunaan gawai dalam memesan makanan, membuat para milenial cenderung suka mencoba makanan baru tanpa memperhatikan kandungan gizinya. 

Tidak jarang makanan yang dipilih adalah makanan cepat saji, cemilan dan minuman manis dengan kandungan gula tinggi. 

Apakah kamu termasuk penyuka es kopi susu yang banyak dikonsumsi oleh banyak anak muda saat ini?

Tren minuman es kopi susu masih menjadi pilihan untuk menemani saat bekerja atau meeting dengan rekan kerja. Tidak heran jika saat ini kedai kopi menjamur karena banyaknya peminat es kopi susu di kota-kota besar di Indonesia. 

Bahkan jumlah konsumsi kopi domestik di tahun 2020 meningkat 13,9 persen  dibandingkan konsumsi di tahun 2019, yaitu sekitar 294.000 ton. 

Tahukah kamu jika dalam 1 gelas es kopi susu dengan ukuran 325 ml terdapat kadar gula 21 gram? 

Bayangkan jika dalam 1 hari kamu meeting selama 2 kali dan setiap meeting kamu mengonsumsi 1 gelas es kopi susu. Itu artinya kamu sudah hampir melebihi batas konsumsi gula dalam 1 hari seperti yang ditentukan oleh Kemenkes. 

Padahal kebiasaan mengkonsumsi minuman manis ini dapat mengundang banyak penyakit seperti diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, hipertensi dan sakit jantung yang meningkatkan risiko terkena stroke di usia muda. 

  • Mager atau Males Gerak

Di masa pandemi ini, banyak yang menganut gaya hidup sedentary yaitu gaya hidup seseorang yang kurang melakukan aktivitas fisik atau kurang gerak. Gaya hidup kurang gerak ini seringkali disebut dengan mager atau malas gerak. 

Perkembangan teknologi yang semakin canggih menjadi pemicu para generasi milenial ini untuk semakin malas bergerak atau berolahraga. Segala kebutuhan dapat tersedia hanya dalam satu kali klik di gawai tanpa harus bergerak keluar  rumah.

Bahkan untuk menuju ke minimarket  atau warung yang jaraknya kurang dari 500 meter saja, memesan ojek online atau mengendarai motor sendiri menjadi pilihan utama daripada harus berjalan kaki. Padahal berjalan kaki 10,000 dalam 1 hari sangat disarankan untuk dilakukan agar tubuh sehat.

Selain itu, sibuk dengan aktivitas sehari-hari juga menjadi alasan anak-anak muda untuk berolahraga rutin setiap harinya. Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa partisipasi olahraga penduduk di Indonesia sangat rendah, hanya ada di angka 35,7 persen saja. 

Bahkan generasi milenial di usia 16-30 tahun berada di posisi tiga terbawah sebagai kelompok usia paling tidak aktif bergerak. Padahal Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan bahwa seseorang yang kurang bergerak atau berolahraga meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti penyakit jantung, diabetes yang memicu penyakit stroke bagi penderitanya. 

  • Sering begadang

Begadang adalah suatu kebiasaan terjaga sampai larut malam  dan  tidur saat pagi datang. Apakah kamu termasuk orang nocturnal yang lebih suka mengerjakan pekerjaan di malam hari? Atau baru menemukan inspirasi di malam hari saat semua orang terlelap tidur?

Mengerjakan urusan kantor hingga larut malam atau mengerjakan tugas kuliah hingga dini hari mungkin terdengar wajar. Bahkan beberapa penelitian menyebutkan bahwa orang nocturnal merupakan orang yang cerdas seperti dikutip dalam penelitian “Why Nights Owl are More Intelligent”. 

Selain itu, sebuah penelitian di University of  Madrid menyebutkan bahwa orang-orang yang suka begadang menunjukkan kecerdasan yang berhubungan dengan pekerjaan yang bergengsi dan berpendapatan lebih tinggi. 

Tapi, tahukah kamu kalau begadang memiliki dampak yang buruk bagi tubuh manusia?

Normalnya seseorang membutuhkan  waktu tidur selama 7-9 jam per hari, bagi para nocturnal, jam tidur mereka tentunya kurang dari 7-9 jam.  Kekurangan jam tidur dapat menyebabkan seseorang menjadi sulit berkonsentrasi, rentan mengalami kecelakaan, terkena berbagai penyakit. 

Sebuah penelitian menyebutkan, seseorang yang sering begadang cenderung memiliki kadar gula darah yang tinggi yang membuat seseorang berisiko terkena penyakit jantung yang merupakan salah satu pemicu penyakit stroke. 

  • Merokok

Saat ini merokok merupakan hal yang lumrah dilakukan oleh anak muda hingga usia lanjut. Padahal merokok banyak sekali membawa dampak buruk bagi orang yang mengkonsumsinya dan orang di sekitarnya. 

Seseorang yang merokok lebih dari 20 batang sehari berisiko terkena stroke 2,5 kali lebih tinggi daripada yang tidak merokok. 

Lalu, apa sebenarnya hubungan rokok dengan stroke?

Rokok memiliki kandungan lebih dari 4.000 bahan kimia yang berbahaya dan 3 diantaranya sangat berbahaya, yaitu nikoton, tar dan karbon monoksida. Nikotin bersifat adiktif  dan dapat mempengaruhi saraf serta peredaran darah. Nikotin dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit dan mengeras serta meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung yang meningkatkan risiko terjadinya penyakit stroke. 

Selain nikotin, karbon monoksida di dalam rokok juga dapat menyebabkan sumbatan lemak dalam pembuluh darah arteri yang dapat menyebabkan stroke. 

  • Bermain ponsel sebelum tidur

Sebutkan barang apa yang pertama kali kamu cari setelah bangun tidur dan menjelang tidur! Bisa dipastikan sebagian besar dari kamu pasti menjawab: ponsel. 

Menggunakan ponsel sebelum tidur membawa dampak buruk  bagi kesehatan. Sebuah penelitian menyebutkan penggunaan ponsel selama 60 menit sebelum tidur dapat membuat kita sulit tidur dan mengurangi kualitas tidur. 

Di dalam Journal Family Medicine and Primary Care juga ditemukan bahwa penggunaan ponsel sebelum tidur juga dapat menyebabkan gangguan tidur. Gangguan tidur ini berkaitan erat dengan metabolisme tubuh, sel-sel di pembuluh darah dan pembuluh limpa. Hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes dan obesitas. Selain itu, dapat meningkatkan risiko hipertensi yang dapat memicu stroke. 

Cara Mencegah Stroke di Usia Muda

Setelah mengetahui apa saja  penyebab penyakit stroke di usia muda, hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah melakukan tindakan pencegahan. 

Apa saja tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk meminimalisir risiko terkena stroke di usia muda?

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan agar dapat mencegah diri terkena stroke:

  • Rutin melakukan medical check up. 

Melakukan medical check up secara berkala minimal 1 tahun sekali sangat disarankan apalagi jika kamu termasuk memiliki keluarga yang memiliki riwayat penyakit yang dapat diwariskan. 

  • Mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis.

Pelan-pelan kurangi konsumsi makanan dan minuman manis. Atau jika masih craving makanan dan minuman manis, kamu bisa menggantinya dengan buah atau jus buah tanpa gula. 

  • Lebih banyak berolahraga dan bergerak

Sediakan waktu 30-40 menit dalam 1 hari untuk berolahraga atau bergerak ringan seperti berjalan kaki sebanyak 10.000 langkah dalam sehari. Atau berjalan kaki santai di pagi hari selama 40 menit. Hal ini dapat menyehatkan badan dan mengurangi risiko terkena berbagai penyakit, termasuk stroke. 

  • Menjaga tekanan darah. 

Hipertensi merupakan risiko terbesar bagi seseorang untuk terkena penyakit, termasuk stroke. Maka sangat penting untuk mempertahankan tekanan darah kurang dari 120/80. 

Bagaimana cara untuk menurunkan tekanan darah jika sudah terlanjur tinggi?

  1. Kurangi asupan garam. Jumlah konsumsi garam dalam 1 hari normalnya adalah di bawah 1.500 miligram atau setengah sendok teh. 
  2. Hindari makanan tinggi lemak jenuh. 
  3. Rutin berolahraga. 
  4. Berhenti merokok jika terbiasa merokok.

  • Menurunkan berat badan berlebih

Obesitas merupakan sumber berbagai penyakit, termasuk stroke. Jika kamu memiliki tubuh dengan berat badan berlebih, sudah saatnya untuk menurunkan berat badan kamu.  Konsultasikan dengan dokter spesialis gizi agar dapat diberikan cara untuk menurunkan berat badan yang sesuai dengan tubuh kamu. 

Jangan sembarangan diet atau mengikuti tren diet karena bisa jadi tidak cocok dengan kondisi tubuh kamu dan malah menyebabkan penyakit lainnya.

  • Berhenti Merokok

Jika kamu  seorang perokok, sudah saatnya untuk berhenti merokok.  Selain baik untuk kesehatan kamu, berhenti merokok juga dapat membuat kamu lebih berhemat, lho. 

Sulit untuk berhenti merokok? Cek tipsnya di sini.

  • Batasi Penggunaan Ponsel Sebelum Tidur

Ada beberapa cara untuk mengurangi penggunaan ponsel sebelum tidur, diantaranya matikan ponsel 1 jam sebelum tidur. 

Selain itu, jangan jadikan ponsel sebagai alarm dan letakkan ponsel di tempat yang tidak mudah terjangkau dari tempat tidur.  Memiliki kualitas tidur yang bagus akan mempengaruhi kualitas kesehatan tubuh kamu, lho.

  • Waspada jika ada tanda-tanda BE FAST di tubuh kamu.

Apa itu BE FAST?

  • Balance: kehilangan keseimbangan atau kordinasi tubuh secara tiba-tiba.
  • Eyes: Salah satu mata atau keduanya tiba-tiba tidak bisa melihat.
  • Face: Wajah terasa berat atau terkulai di satu sisi.  
  • Arms: Tiba-tiba merasa lemah di salah satu sisi tangan atau kaki.
  • Speech: Tiba-tiba kesulitan untuk bicara atau memahami ucapan orang lain. 
  • Time: Jika kamu merasakan hal-hal diatas, segera hubungi 119 atau Rumah Sakit.

Dengan melakukan hal-hal yang disebut  di atas diharapkan dapat mengurangi risiko terkena penyakit stroke. Seperti kata pepatah, mencegah lebih baik, daripada mengobati. Yuk lebih perhatian dengan tubuh agar tubuh senantiasa sehat sehingga bisa tetap produktif dan berkarya!


  Kembali