Indonesia merupakan negara kepulauan yang terbesar di dunia dengan jumlah 17.499 pulau dari Sabang hingga Merauke yang memiliki banyak sekali keanekaragaman sumber daya laut yang dapat dimanfaatkan oleh para nelayan dan masyarakat pesisir. 

Selain itu, Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia, yaitu sekitar 95.181 km dengan luas perairan laut yang mencapai 5,8 juta kilometer persegi. Inilah alasan mengapa Indonesia disebut sebagai Negara Maritim karena Indonesia memiliki wilayah perairan yang amat luas. 

Wilayah pesisir merupakan suatu daerah yang letak wilayahnya tidak jauh dari pantai. Secara ekologi, wilayah pesisir adalah wilayah peralihan atau transisi antara lingkungan laut dan darat yang menyebabkan sumber air di daerah pesisir menjadi payau. 

Sayangnya, meskipun  dikelilingi oleh pantai, daerah pesisir menjadi daerah yang rentan terkena krisis sumber air bersih yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) menyebutkan di Indonesia terdapat  sekitar 12.827 desa yang berada di daerah pesisir. Namun, hanya sekitar 66,64 persen  saja yang memiliki akses air bersih untuk kebutuhan sanitasi

Padahal Indonesia memiliki air yang melimpah, namun sayangnya air tersebut tidak bisa dinikmati oleh masyarakat pesisir karena letak geografis daerah pesisir. 

Krisis Air Bersih di Desa Pantai Sederhana, Muara Gembong

Salah satu wilayah yang mengalami krisis air bersih adalah Desa Pantai Sederhana, Muara Gembong, Bekasi yang merupakan desa yang berada di kawasan pesisir Laut Jawa bagian utara. Disebutkan jika krisis air bersih telah dialami oleh warga di Muara Gembong sejak tahun 1980-an. 

Selain menghadapi ancaman percepatan permukaan air laut, penurunan permukaan tanah, krisis air bersih menjadi ancaman yang telah dialami oleh masyarakat di Desa Pantai Harapan. 

Bahkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memprediksi bahwa seluruh wilayah di Pantai Utara, termasuk Desa Pantai Sederhana, Muara Gembong, akan menjadi wilayah yang berpotensi mengalami defisit ketersediaan air di tahun 2040. 

Warga kesulitan mendapatkan air bersih, sehingga mereka harus membeli air bersih untuk kebutuhan makan dan minuman, sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mencuci, mandi dan wudhu mereka terpaksa menggunakan sumur bor yang airnya berwarna dan terasa payau. 

Sayangnya tidak semua warga memiliki sumur bor, sehingga warga yang tidak memiliki sumur bor terpaksa harus membeli air dari warga lainnya yang memiliki sumur bor atau memanfaatkan air sungai yang ada di lingkungan Desa Pantai Sederhana. 

Krisis Air di Desa Pantai Sederhana akan semakin terasa saat musim kemarau, dimana sumur bor akan mengering dan saat musim penghujan mereka harus merasakan air menggenangi rumah mereka dan membuat air yang ada di sumur bor menjadi kotor. 

Ditambah lagi saat air laut pasang dan menyebabkan terjadinya  banjir rob, mereka pun harus merasakan sumber air mereka terasa lebih asin. 

Selain permasalah sumber air bersih, ketersediaan sarana MCK di Desa Pantai Sederhana juga cukup memprihatinkan. Masyarakat yang sebagian besar merupakan warga menengah ke bawah terbiasa menggunakan kakus yang terbuat dari bambu dan ditutupi kardus atau triplek di pinggiran sungai. 

Tidak semua warga memiliki MCK yang memadai di rumah mereka masing-masing. 

Wakaf Air Muara Gembong

Berangkat dari kepedulian dan keprihatinan atas apa yang dirasakan oleh warga di Desa Pantai Sederhana, tim Bidang Lingkungan, YBKB Environment Saviour (YES), berinisiatif untuk mengadakan program Wakaf Air di Desa Pantai Sederhana, Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat. 

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Desa Pantai Sederhana, YES berencana untuk membuat sumur dengan kedalaman 100 sampai 150 meter agar dapat mendapatkan sumber air yang tidak terasa asin atau payau. 

Pembuatan Sumur Bor

Tujuan Wakaf Air di Desa Pantai Sederhana, Muara Gembong, adalah untuk membantu para warga setempat yang kesulitan mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Diharapkan setelah adanya sumur air bersih dengan kedalaman 100 meter di Desa Pantai Sederhana, seluruh warga yang terdiri atas 37 Kepala Keluarga dengan jumlah 137 warga dapat memenuhi kebutuhan air bersih mereka. 

Selain membuat sumur bor, sarana MCK juga akan dibangun di Desa Pantai Sederhana agar warga tidak perlu lagi menggunakan kakus darurat yang ada di pinggir sungai. 

Teknis Pembuatan Sumur Bor

Pembuatan sumur bor  direncanakan akan dimulai di Hari Senin, 29 November 2021 dengan dimulai dengan pengeboran sumur di lokasi yang sudah ditentukan setelah diadakan survey lokasi di Desa Pantai Sederhana. 

Selain pembuatan sumur bor akan dibuatkan bak penampungan untuk menampung air dari sumur bor sehingga para warga setempat dapat memenuhi kebutuhan air bersih mereka dengan mengambil air yang ada di bak penampungan. 

Program  wakaf air ini turut melibatkan para warga yang ada di Desa Pantai Sederhana RT 03/04, Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat.

Semoga dengan adanya program Wakaf Air Muara Gembong ini tingkat kesehatan dan kebersihan warga dapat meningkat karena ketersediaan air bersih dan sarana MCK yang memadai. 

Agar tidak ada lagi pemandangan warga yang harus menggunakan air dari sungai untuk kebutuhan mandi dan cuci sekaligus sebagai kakus mereka. 

Bagi para sahabat Dermawan yang ingin turut serta membantu dalam terlaksananya program Wakaf Air Muara Gembong, kami membuka kesempatan seluas-luasnya. 

Semoga dengan kepedulian dan kebaikan para Sahabat Dermawan, kita dapat bersama-sama meringankan beban hidup warga di Desa Pantai Sederhana dan semoga Allah SWT senantiasa memberikan ridhoNya kepada kita semua dengan amal jariyah melalui wakaf air. Aamiin ya rabbal’alamiin. 

“Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga macam, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dapat diambill manfaatnya, atau anak saleh yang mau mendoakannya.” (HR. Muslim)


  Kembali