Sahabat YBKB, apakah kamu memiliki akun media sosial? Pada era digital seperti saat ini, hampir sebagian besar masyarakat memiliki akun media sosial. 

Bagi generasi milenial dan generasi Z, memiliki akun media sosial di beberapa platform pun sudah menjadi hal yang lumrah. Ini disebabkan, akun media sosial sudah menjadi sarana untuk membentuk identitas dan menunjukkan eksistensi diri. 

Menurut Nasrullah (2015), media sosial adalah medium di internet yang memungkinkan pengguna merepresentasikan dirinya maupun berinteraksi, bekerja sama, berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lain membentuk ikatan sosial secara virtual. 

Saat ini, media sosial tidak hanya sebatas sarana berkomunikasi secara virtual. Penggunaan media sosial sudah berkembang sedemikian rupa sehingga banyak orang menggantungkan kelancaran pekerjaan dan bisnisnya pada media sosial. 

PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DI INDONESIA

Menurut data Hootsuite, terdapat 4 platform media sosial yang paling sering diakses oleh pengguna media sosial Indonesia, yaitu YouTube, WhatsApp, Facebook dan Instagram. Masyarakat Indonesia yang dikenal guyub dan ramah memang tidak bisa lepas dari media sosial. Kegiatan bersosialisasi sehari-sehari bisa dilakukan dengan mudah secara virtual melalui keberadaan media sosial.

Dari survei yang sama, Indonesia memiliki pengguna aktif media sosial sebanyak 160 juta. Sebuah angka yang mencengangkan bagi negara yang memiliki pengguna aktif internet sebesar 175,4 juta jiwa dari total penduduk 272.229.372 jiwa ini (dukcapil.kemendagri.go.id). Artinya, hanya terdapat kurang dari 10% pengguna internet di Indonesia yang tidak memiliki akun media sosial. Bahkan, rata-rata penduduk Indonesia memiliki sekitar 10 akun media sosial per orang! 

Selama 2019, pengguna internet di Indonesia yang berusia 16 hingga 64 tahun memiliki waktu rata-rata selama 7 jam 59 menit per hari untuk berselancar secara virtual di dunia maya. Angka tersebut melampaui rata-rata penduduk di seluruh dunia yang hanya menghabiskan waktu 6 jam 43 menit per harinya.

Secara keseluruhan, pengguna internet di Indonesia menghabiskan waktu paling tidak 4 jam 46 menit setiap harinya untuk mengakses internet melalui telepon seluler. Dan 3 jam 26 menit diantaranya digunakan untuk mengakses media sosial. Angka itu juga di atas rata-rata penduduk dunia yang mencatat waktu 2 jam 24 menit per hari saat mengakses media sosial. 

DAMPAK POSITIF MEDIA SOSIAL

Banyaknya waktu yang dihabiskan penduduk Indonesia untuk mengakses media sosial menunjukkan bahwa media sosial memang memiliki banyak manfaat. Apa saja manfaat maupun dampak positif yang didapatkan dari media sosial? 

  1. Sarana Menjalin Silaturahmi

Siapapun bisa menemukan berbagai macam orang yang berasal dari mana saja di media sosial. Seseorang yang sudah tidak pernah berkomunikasi dengan teman semasa kecil dapat dengan mudah menemukannya melalui media sosial, untuk kemudian bisa rutin menjalin silaturahmi baik secara offline maupun online.

  1. Sarana Pendidikan

Media sosial tidak hanya untuk berkomunikasi ataupun menjalin relasi dengan orang lain, tetapi juga dapat menjadi medium terjadinya proses pendidikan. Melalui media sosial, siapa pun dapat memperoleh berbagai ilmu baru. Ilmu yang tersedia di media sosial juga sangat luas dan beragam jenisnya, sehingga pengetahuan dapat bertambah dengan mudah di dalam genggaman tangan.

  1. Memudahkan Penyebaran Informasi

Manfaat lain media sosial yang cukup terasa yaitu memudahkan penyebaran informasi mengenai apapun. Walaupun tidak menonton berita di televisi maupun di koran, dengan mengakses media sosial, saat ada yang membagikan, maka informasi tersebut tetap didapatkan.

Illustration of social media concept

  1. Sarana Promosi

Media sosial juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana promosi. Sifat media sosial dapat dilihat oleh siapa saja sehingga produk apapun yang ditawarkan bisa diketahui banyak orang. Selain itu, media sosial juga bisa digunakan untuk membangun koneksi dengan target pasar yang dipilih. Tujuannya tentu untuk lebih mendekatkan target pasar dengan produk yang ditawarkan.

  1. Sarana Membantu Orang lain

Media sosial dapat menjadi sarana membantu pihak lain ketika ada yang sedang membutuhkan bantuan. Seperti saat terjadi bencana atau ada pihak yang sedang mengalami kesulitan, melalui penyebaran informasi di media sosial, maka siapa pun dapat langsung mengetahuinya. Hal ini dapat mengundang empati orang lain untuk ikut serta membantu seseorang atau lembaga sosial yang membutuhkannya.

DAMPAK MEDIA SOSIAL BAGI KESEHATAN JIWA

Media sosial memang mampu memberikan banyak manfaat bagi para penggunanya. Namun, penggunaan platform media sosial secara terus menerus juga dapat memiliki dampak negatif, terutama pada kesehatan jiwa.

Penelitian yang dilaporkan dalam jurnal JAMA Psychiatry menemukan bahwa remaja yang menggunakan media sosial lebih dari tiga jam per hari berisiko tinggi terhadap masalah kesehatan jiwa terutama masalah internalisasi alias citra diri.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Social and Clinical Psychology ini juga menemukan bahwa mahasiswa yang membatasi waktu mereka di Facebook, Instagram, dan SnapChat, hingga 10 menit setiap hari atau maksimum total 30 menit penggunaan per hari untuk semua media sosial umumnya memiliki citra diri yang lebih positif. 

Walaupun penelitian ini dilakukan pada usia remaja, namun ternyata juga dapat berlaku pada orang dewasa. Menurut beberapa penelitian yang dilakukan, media sosial dapat memberikan pengaruh negatif terhadap kesehatan jiwa, salah satunya karena munculnya adiksi atau rasa ketergantungan untuk terus mengakses media sosial. Selain ketergantungan, ada beberapa pengaruh media sosial terhadap kesehatan jiwa, antara lain:

  1. Menimbulkan perasaan negatif 

Saat mengakses media sosial, secara otomatis interaksi akan terjadi melalui hal-hal yang dipublikasikan. Banyak pengguna media sosial hanya memposting hal-hal yang bersifat kebahagiaan dan pencapaian kesuksesan. Tanpa sadar, saat melihat kebahagiaan dan kesuksesan orang lain, otomatis pikiran akan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Hal ini dapat berakibat timbulnya perasaan bahwa diri sendiri berada dalam kondisi lebih kekurangan dari orang lain. Kondisi tersebut tidak baik bagi kesehatan jiwa karena mempengaruhi harga diri dan rasa percaya diri seseorang.

  1. Menurunkan kemampuan komunikasi 

Pengaruh yang paling sering terjadi adalah media sosial dapat menurunkan kemampuan seseorang dalam berkomunikasi secara nyata. Para pengguna media sosial yang lebih terpaku dengan layar ponsel, bisa jadi sangat aktif di media sosial namun mengalami kesulitan saat berkomunikasi pada kehidupan nyata dengan orang lain disekitarnya. Tidak sekedar berkomunikasi, kemampuan untuk menjalin hubungan pribadi juga dapat terpengaruh. Istilah “menjauhkan yang dekat, dan mendekatkan yang jauh” memang seringkali terjadi pada era digital ini. 

  1. Mengabaikan kehidupan pribadi

Jika sudah dalam tahapan adiksi terhadap media sosial, siapa pun dapat mengalami rasa kehilangan atau rasa kekurangan dalam kesehariannya saat tidak mengakses media sosial. Saat terus menerus memprioritaskan untuk mengakses media sosial, akan ada beberapa hal yang kehidupan nyata yang harus dinomorduakan. Dalam jangka panjang, kehidupan pribadi akan terabaikan, terbentuknya kepribadian yang mudah terpengaruh dan mudah lari dari kenyataan. 

  1. Menimbulkan rasa kesepian

Percaya atau tidak, media sosial sering menimbulkan rasa kesepian bagi para penggunanya. Hal ini disebabkan karena teman yang dimiliki dalam media sosial tidak dapat memberikan efek terapeutik seperti teman nyata yang dapat benar-benar hadir untuk menemani dan memberikan dukungan di kehidupan nyata. Oleh karena itu, ketika seseorang sering tenggelam dalam interaksi di  media sosial atau bahkan mendapatkan teman yang banyak tapi hanya di media sosial saja, maka orang tersebut dapat berkemungkinan akan sering mengalami rasa kesepian. 

  1. Mempengaruhi waktu tidur

Secara sadar atau tidak sadar, media sosial berpengaruh besar terhadap waktu tidur. Apabila seseorang tidak mendapatkan waktu tidur berkualitas yang memadai, maka akan berpengaruh pula pada kesehatan jiwa atau bahkan kesehatan fisik secara menyeluruh. 

Media sosial menyebabkan seseorang mudah mengaksesnya melalui ponsel sebelum tidur. Dalam kondisi ini maka sebelum tidur otak akan berada pada posisi waspada karena adanya pikiran serta perasaan kuat yang hadir sesaat sebelum tidur. 

Saat perasaan bahagia yang hadir mungkin tidak masalah, namun saat rasa cemas atau overthinking setelah mengetahui kabar tertentu hadir sebelum tidur tentunya berpotensi mengganggu. Jika hal itu terjadi, maka kualitas tidur dapat menurun karena seharusnya otak berada dalam kondisi rileks.

BAGAIMANA MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL TAPI TETAP SEHAT JIWA?

Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Berbagai manfaat dan kemudahan yang diberikan media sosial tentunya dibutuhkan semua orang pada era digital ini. Namun, bagaimana agar jiwa kita tetap terjaga dan sehat saat mengakses media sosial?

  1. Batasi waktu dan tempat saat menggunakan media sosial

Menggunakan media sosial dapat mempengaruhi cara berkomunikasi langsung dengan orang lain. Dengan mematikan notifikasi media sosial atau menyalakan mode pesawat pada waktu tertentu setiap harinya, relasi dengan orang di sekitar dapat lebih terjaga. 

Misalnya, tidak mengecek media sosial saat makan bersama keluarga dan teman, menaruh ponsel fokus saat bermain dengan anak, hingga tidak menatap layar melainkan menatap mata lawan bicara saat berbicara dengan pasangan. Jika memungkinkan, jangan menyimpan ponsel, laptop atau komputer di kamar tidur.

  1. Jadwalkan masa ‘detoksifikasi’

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ‘detoksifikasi’ media sosial atau ‘jeda’ selama lima hari hingga seminggu dari Facebook dapat menurunkan level stres dan meningkatkan kepuasan hidup. Jadi, mulailah jadwalkan jeda harian dari media sosial selama beberapa hari.

Tentunya tidak harus ekstrem yang menyebabkan kamu menjadi tidak nyaman karena tidak bisa mengakses media sosial, misalnya menggunakan Instagram, YouTube dan Facebook selama 10 menit sehari selama tiga minggu. Awalnya mungkin akan sulit dilakukan, namun kamu bisa meminta dukungan dari keluarga dan teman dengan mengatakan sedang ‘diet’ atau ‘detoks’ media sosial. 

Jika perlu mengakses media sosial karena keperluan pekerjaan maupun bisnis, maka jadwalkan jam kerja untuk mengakses media sosial yang tidak akan mengganggu waktu istirahat maupun waktu bersosialisasi bersama keluarga. Dan disiplin terhadap jadwal tersebut.

Digital Detox, Information Ecology, Staying Away from Online Communication Concept. Character Meditate, Exit Social Media Networks, Turn Off Gadgets and Electronic Device. Cartoon Vector Illustration

  1. Gunakan media sosial dengan penuh kesadaran: Mengapa saya mengakses media sosial? Apa yang dirasakan saat mengakses dan setelahnya?

Jujurlah pada diri sendiri, apa alasan mengakses media sosial? Apakah untuk keperluan pekerjaan? Atau untuk memenuhi rasa ingin tahu, mencari hiburan dan mengusir kegugupan maupun kesepian? 

Coba gunakan platform favorit pada waktu dan durasi yang berbeda dalam sehari untuk melihat bagaimana perasaan saat itu dan setelahnya. Bisa jadi kamu akan menemukan bahwa mengakses media sosial dengan waktu yang singkat akan membantu merasa lebih baik ketimbang menghabiskan waktu 45 menit dalam satu kali akses untuk menelusuri seluruh feed situs secara mendalam.

Perlu diketahui bahwa orang-orang yang pasif menggunakan media sosial, sekadar melihat unggahan milik orang lain, dapat merasa lebih buruk daripada orang yang aktif menggunakan media sosial, mengunggah tentang diri sendiri dan berinteraksi dengan orang lain di dunia maya. Jadi, lebih baik memfokuskan interaksi di media sosial dengan orang yang sudah dikenal secara offline.

  1. Buatlah batasan

Saat ini mungkin banyak orang atau organisasi yang diikuti di media sosial. Beberapa konten menarik untuk dilihat, namun ada banyak yang akan membosankan, menyebalkan atau sering menimbulkan perasaan negatif setelah melihatnya. 

Jika itu terjadi, maka merupakan waktu yang tepat untuk berhenti mengikuti (unfollow), membisukan (mute), atau menyembunyikan kontak (hide). Memiliki batasan di media sosial atas konten yang dikonsumsi itu sangatlah penting. Percayalah, hidup akan menjadi lebih baik.

Dalam sebuah penelitian, diungkapkan bahwa mengetahui detail informasi kehidupan teman-teman Facebook bisa mempengaruhi orang menjadi lebih negatif dibandingkan konten lainnya di Facebook. Sementara, konten yang dipenuhi dengan kisah-kisah inspiratif justru menimbulkan perasaan bersyukur dan kekaguman.

  1. Media sosial bukan pengganti kehidupan nyata

Saat digunakan dengan penuh kesadaran, media sosial merupakan medium yang berguna bagi kehidupan sosial. Namun, hanya orang yang sedang duduk di hadapan dan di samping kamu yang dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk sosial untuk rasa keterhubungan. Tidak semua hal dalam kehidupan nyata akan terungkap dalam media sosial.

Psst, tahukah kamu kalau netizen Indonesia dinobatkan sebagai yang paling tidak sopan se-Asia Tenggara! Padahal penduduk Indonesia juga dikenal sebagai negara yang memiliki penduduk yang ramah dan paling dermawan sedunia. Menurut penelitian yang dilakukan World Giving Index pada 2018 dan 2021, Indonesia konsisten menjadi negara nomor satu dalam hal kedermawanan berdonasi uang, menolong orang asing dan menjadi sukarelawan. Sungguh berbanding terbalik antara perilaku di dunia nyata dengan dunia maya, bukan? 

  1. Gunakan media sosial untuk mengajak berbuat kebaikan

Tahukah kamu, menurut salah satu penelitian di University of California, salah satu cara paling efektif meningkatkan kebahagiaan adalah dengan berbagi? Menurut psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, ketika kita bisa menolong dan berbagi dengan orang lain, kita tidak cuma membahagiakan orang lain, tapi juga membahagiakan diri sendiri.

Ketika kamu ingin tetap menjaga kesehatan jiwa saat mengakses media sosial, maka manfaatkanlah akun media sosial yang dimiliki sebagai sarana berbagi kebaikan. Jika kamu memiliki keilmuan mendalam mengenai suatu hal, kamu dapat membagikannya di media sosial. Saat berhasil memberikan manfaat untuk orang lain, maka ada perasaan puas dan bahagia hadir di dalam diri yang tentunya bermanfaat bagi kesehatan jiwa.

Jika tidak punya waktu dan keahlian untuk membuat konten mengenai suatu keilmuan tertentu, kamu bisa memanfaatkan media sosial sebagai sarana mengajak orang lain untuk berbagi dan berbuat kebaikan. Membuat penggalangan dana untuk satu kampanye tertentu melalui media sosial atau mengajak orang lain yang ada di lingkaran media sosial kamu untuk berdonasi di lembaga amal terpercaya juga dapat secara tidak langsung membuat rasa bahagia hadir di dalam diri.

Jadi, kebaikan apa yang sudah kamu lakukan di media sosial hari ini? Semoga dengan kebaikan dan kegiatan berbagi yang rutin kamu lakukan, kesehatan jiwa kamu dapat terjaga. 🙂


  Kembali