Bulan September merupakan bulan yang penting dalam dunia literasi. Tanggal 8 September adalah Hari Literasi Internasional yang telah dirayakan sejak tahun 1967. 

Hari Literasi Internasional ini merupakan upaya untuk mengingatkan betapa pentingnya masyarakat untuk melek literasi dasar dan merupakan Hak Asasi Manusia (HAM) untuk dapat melek aksara atau melek huruf. 

Melek aksara atau melek huruf merupakan kemampuan untuk membaca dan menulis. Tingkat melek aksara dihitung dari persentase populasi dewasa yang memiliki kemampuan untuk membaca dan menulis. 

Pada kenyataannya, di tahun 2021 masih banyak penduduk di dunia yang masih buta huruf atau buta aksara dikarenakan tidak mendapatkan kesempatan untuk belajar atau harus putus sekolah karena berbagai faktor seperti jumlah populasi, status sosial ekonomi, ketidaksetaraan gender, kemiskinan, emigrasi dan lainnya. 

UNESCO menyebutkan bahwa masih ada sekitar 773 juta anak muda  dan orang dewasa di dunia yang belum melek huruf atau melek aksara. Beberapa negara di Afrika seperti Nigeria, Mali, dan Burkina Faso menempati angka penduduk yang melek aksara paling rendah di dunia, hanya sekitar 12,8 – 19,0 persen penduduknya yang dapat membaca dan menulis.

Padahal melek huruf ini amatlah penting dalam pembangunan dan perkembangan manusia dan sosial. Dengan literasi, manusia dapat mengembangkan kemampuan untuk mempelajari hal-hal baru dan memperoleh kemampuan yang berbeda. Hal ini dapat meningkatkan standar hidup karena memiliki kemampuan atau keahlian baru. 

Masyarakat yang melek huruf, dapat memberikan banyak dampak di bidang sosial dan ekonomi. Dengan memiliki keahlian yang didapat dengan mempelajari keterampilan yang baru, seseorang dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Atau dapat bekerja dengan kemampuan yang dimiliki. Hal ini dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. 

Selain itu, dengan melek literasi, seseorang dapat mengembangkan diri mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan dapat meningkatkan kualitas diri mereka. 

Sayangnya, jumlah penduduk yang belum melek huruf di Indonesia masih ada. Diambil dari data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk yang buta huruf di Indonesia ada sekitar 2,96 orang atau 1,71 persen dari seluruh total penduduk Indonesia di tahun 2020. Hal ini masih menjadi PR bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia.

Minimnya Literasi di Kota Literasi

Jepara merupakan awal dari bangkitnya literasi di Indonesia yang diprakarsai oleh R.A. Kartini. Dimana pada tahun 1900, R.A. Kartini mengajarkan masyarakat di Jepara untuk membaca. Hal inilah yang membuat Jepara mendapat julukan sebagai Kota Literasi karena awal mula literasi ada di kota ini. 

Tercatat di Bulan Oktober 2018, ada sekitar 710 perpustakaan di Jepara. Bahkan di tahun 2018, Perpustakaan Kabupaten Jepara meraih predikat “Best of the Best” Perpustakaan Daerah Kabupaten/Kota terbaik di Indonesia. 

Namun, ironisnya ternyata minat baca anak-anak di Jepara hanya ada di angka 1 persen. Hal ini sangat kontras dengan Jepara yang memiliki sebutan sebagai Kota Literasi. 

Diambil dari Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ada berbagai faktor yang menyebabkan minimnya minat baca anak-anak di Indonesia pada umumnya dan Jepara pada khususnya salah satunya adalah kurangnya akses untuk membaca. 

Kurangnya akses untuk membaca terjadi di Desa Kepuk, Jepara. Di mana anak-anak harus menempuh jarak belasan kilometer untuk menuju kota terdekat yang memiliki fasilitas perpustakaan karena minimnya taman baca  di daerah tersebut. 

Selain disebut sebagai Kota Literasi, desa Kepuk juga merupakan desa pewaris Kesenian Khas Jepara, yaitu Kesenian Emprak (embrio kesenian ketoprak yang saat ini hampir punah). Namun, sayangnya saat ini kesenian ini mulai ditinggalkan karena tidak ada generasi penerus yang melanjutkan kesenian tersebut. 

Sedekah Buku Jepara: Menjaga Literasi, Merawat Tradisi

Sebagai bentuk ikhtiar untuk meningkatkan minat baca anak-anak dan masyarakat di Desa Kepuk, Jepara, bidang YBKB Educate People (YUP) menginisiasi program Sedekah Buku Jepara di Desa Kepuk, Jepara, Jawa Tengah dengan membangun sarana dan prasarana berupa taman baca. 

Dengan program Sedekah Buku Jepara ini, diharapkan minat baca anak-anak dan warga di Desa Kepuk dapat meningkat. Selain itu, dengan adanya taman baca ini dapat menghidupkan literasi budaya, meningkatkan keterampilan dan menumbuhkan karakter anak-anak di Desa Kepuk yang kelak dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. 

Selain dengan membangun dan merenovasi taman baca di Desa Kepuk, YBKB juga akan merenovasi fasilitas untuk perkumpulan pergerakan pemuda dan sanggar pelestarian budaya Emprak. 

Sedekah Buku Jepara akan diadakan pada tanggal 2 Oktober 2021 di Desa Kepuk RT.04/05, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara – Jawa Tengah. 

Agenda kegiatan Sedekah Buku Jepara adalah:

  1. Merenovasi taman baca dan sanggar pelestarian budaya Emprak. 
  2. Pengadaan rak dan buku-buku bacaan.
  3. Penyaluran dana pendidikan untuk anak-anak yang membutuhkan di Desa Kepuk. 

Mohon doa dan dukungan dari para Sahabat Dermawan agar program Kegiatan Sedekah Buku Jepara: Menjaga Literasi, Merawat Tradisi dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Mari dukung program Sedekah Buku Jepara agar semakin banyak anak-anak di Indonesia dan Desa Kepuk pada khususnya yang semakin melek literasi dan meningkat minat bacanya!

Bagi para Sahabat Dermawan yang ingin turut mensukseskan program Sedekah Buku Jepara, Yuk Donasi! 

Kepedulian dari para Sahabat Dermawan akan membawa dampak besar bagi anak-anak  dan warga di Desa Kepuk untuk dapat Menjaga Literasi dan Merawat Tradisi budaya yang ada di Desa Kepuk, Jepara. 

 


  Kembali