hero

SDG’s di Indonesia itu Seperti Apa, ya?

22 January 2022 |Artikel

Pencapaian Sustainable Development Goals di Indonesia 

 

Pada artikel sebelumnya, kamu sudah kenalan dengan SDGs dan apa saja pilar SDG yang ada di Indonesia. Nah, bagaimana sih upaya mewujudkan SDG di Indonesia dan apa saja pencapaiannya?

 

Sejak tahun 2016, Indonesia sudah terlibat aktif dalam mewujudkan SDGs. Pencapaian Indonesia dan negara-negara lainnya dari tahun ke tahun, bisa dilihat Sustainable Development Report (SDG Index & Dashboard). Yaitu laman yang menampilkan data penilaian global, tentang kemajuan setiap negara dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. 

Berdasarkan SDG Index & Dashboard tahun 2022, Indonesia berada di peringkat 82 dari 163 negara, dengan skor 69,2. Posisi Indonesia cukup jauh dengan negara tetangga Thailand yang berada di peringkat 44, dengan skor 74,13. Indonesia juga masih tertinggal di bawah Malaysia yang mendapat ranking 72 dengan skor 70,38.  

Meski Indonesia masih tertinggal dari negara-negara sahabat di kawasan Asia Tenggara, tetapi capaian Indonesia dalam pembangunan berkelanjutan, menunjukkan tren positif. Dari 17 tujuan, empat di antaranya dinyatakan tercapai atau (on the track). Keempat tujuan tersebut ialah, pendidikan berkualitas, air bersih dan sanitasi layak, pertumbuhan ekonomi, serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. 

Sedangkan untuk 13 tujuan lainnya, 9 tujuan dikatakan cukup membaik atau ada peningkatan. 4 tujuan dinyatakan stagnan tetapi tidak ada satu pun yang statusnya menurun.

 

Impian Pendidikan Berkualitas

Capaian SDGs Indonesia pada tujuan pendidikan berkualitas, indikatornya dapat dilihat pada:

  • tingkat partisipasi pembelajaran pra sekolah dasar, 
  • angka partisipasi sekolah dasar dan menengah
  • tingkat literasi

Sayangnya belum ada penambahan data terbaru pada SDG index & dashboard terkait pencapaian partisipasi sekolah. Data terakhir yang tersedia sampai tahun 2018 yang menunjukkan adanya peningkatan. Sedangkan untuk indikator tingkat literasi, data terbaru tahun 2020 menunjukkan ada sedikit peningkatan. 

Angka partisipasi sekolah yang menjadi indikator di SDG maksudnya adalah, rasio anak yang sekolah pada kelompok umur tertentu terhadap jumlah penduduk pada kelompok umur yang sama. 

Fakta di lapangan menunjukkan masih banyak anak yang mengalami putus sekolah. Penyebab anak putus sekolah bisa diakibatkan oleh beberapa faktor, seperti keterbatasan ekonomi, kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan, keadaan geografis, akses menuju sekolah terbatas, dan minimnya fasilitas pendidikan di satu wilayah. 

Melansir dari kemdikbud.go.id, partisipasi sekolah mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai Perguruan Tinggi di tahun ajaran 2020/2021 mengalami penurunan. Hal ini dipengaruhi oleh pandemi covid-19 yang merebak di Indonesia sejak awal tahun 2020.

Impian meningkatkan kualitas pendidikan jadi menghadapi tantangan besar. Sebab Indonesia masih memiliki PR untuk menambah angka partisipasi sekolah dan mengurangi jumlah anak yang putus sekolah. Namun di sisi yang lain, negara harus bisa meningkatkan mutu dan layanan pendidikan untuk melahirkan generasi cerdas yang siap bersaing global.

Jika Pendidikan di Indonesia berkualitas, maka akan tumbuh generasi penerus yang juga berkualitas

Kemiskinan dan Kelaparan

Kemiskinan dan kelaparan menjadi tujuan SDG paling awal yang ingin diselesaikan oleh bangsa dunia. Sebab menurunnya angka kemiskinan dan kelaparan menunjukkan perbaikan kualitas hidup manusia, yang memungkinkan manusia bisa berdaya. 

Untuk melihat pencapaian tujuan mengurangi kemiskinan indikator yang dipakai oleh SDG adalah:

  • Rasio jumlah penduduk miskin dengan penghasilan $1.90  (Rp 28.000) per hari
  • Rasio jumlah penduduk miskin dengan penghasilan $3.20 (Rp 47.000) per hari

Hasilnya, rasio jumlah penduduk miskin di Indonesia mengalami penurunan signifikan sejak tahun 2015. Namun tren penurunannya jadi melambat di tahun 2020. Bahkan melalui data yang ada di dashboard jumlah penduduk miskin di Indonesia sempat naik di tahun 2020. Lagi-lagi hal ini berkaitan dengan pandemi covid-19 yang melanda dunia. 

Zero Hunger adalah salah satu target pemerintah Indonesia dan pemimpin dunia saat ini

Sedangkan untuk masalah krisis pangan dan kelaparan indikator pencapaiannya cukup banyak, di antaranya ada:

  • Prevalensi kurang gizi
  • Prevalensi stunting pada anak di bawah usia 5 tahun
  • Prevalensi wasting pada anak di bawah usia 5 tahun
  • Prevalensi obesitas
  • Tingkat trofi
  • Hasil panen komoditas serealia
  • Indeks pengelolaan nitrogen berkelanjutan
  • Tingkat ekspor pestisida berbahaya

Dari keseluruhan indikator tujuan mengurangi kelaparan, Indonesia mendapatkan nilai merah untuk kasus stuntingStunting merupakan salah satu tanda kondisi gagal tumbuh pada anak yang berusia di bawah lima tahun. Penyebabnya adalah kurangnya asupan gizi yang terjadi dalam kurun waktu yang lama, yaitu terhitung sejak 1.000 hari pertama kehidupan anak. 

Ciri yang paling terlihat dari anak dengan stunting adalah postur tubuh mereka yang pendek (kerdil). Hal ini terjadi karena tumbuh kembang mereka yang terhambat. Bukan hanya pertumbuhan badannya yang terpengaruh, perkembangan otak anak juga terganggu. Akhirnya mempengaruhi tingkat kecerdasan anak dan menurunnya prestasi sekolah.

Cara mengatasi stunting adalah dengan melakukan pencegahan mulai dari anak masih berada dalam kandungan. Yaitu dengan memastikan ibu hamil mendapatkan asupan nutrisi yang seimbang. Pemenuhan gizi pada anak juga dilakukan sampai anak menginjak usia 2 tahun. Agar tubuh dan otaknya mendapatkan nutrisi yang diperlukan untuk berkembang.  

Saat ini pemerintah memberikan perhatian besar pada masalah stunting, tetapi upaya pencegahan stunting bisa lebih masif jika semua pihak peduli. Mengedukasi remaja tentang kesehatan reproduksi, memberi pendampingan pada ibu hamil mengenai pentingnya asupan makanan bergizi, serta mengedukasi tentang pola asuh anak yang baik. 

Kemiskinan juga memiliki sangkut paut dengan kelaparan dan stunting. Faktor kesulitan ekonomi membuat masyarakat sulit mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi.

 

Upaya Meningkatkan Sanitasi 

Sanitasi yang buruk juga dapat menyebabkan stunting pada anak-anak. Dilansir dari airkami.id, hasil penelitian Kementerian Kesehatan (Kemenkes), stunting yang disebabkan sanitasi buruk mencapai 60 persen sedangkan yang diakibatkan gizi buruk sekitar 40 persen. 

Sanitasi yang buruk membuat masyarakat rentan terkena penyakit. Di Indonesia perilaku buang air besar sembarangan (open defecation) masih marak terjadi. Menurut laporan UNICEF hampir 25 juta warga di Indonesia tidak menggunakan toilet dengan sanitasi layak. 

Perilaku BAB sembarangan serta minimnya pengolahan air limbah membuat sumber air masyarakat yang dipakai untuk mandi dan minum jadi tercemar. Lebih lanjut lagi UNICEF menyebutkan bahwa 70 persen dari 20.000 sumber air minum  rumah tangga terkontaminasi limbah tinja. Membuat anak usia di bawah 5 tahun menderita diare dan hal ini menjadi penyebab utama angka kematian anak.

Indikator pencapaian pembangunan berkelanjutan dalam aspek air bersih dan sanitasi layak di antaranya adalah:

  • Ketersediaan sumber/fasilitas air minum yang layak
  • Penduduk memiliki fasilitas sanitasi layak sendiri
  • Ketersedian sumber air bersih
  • Pengolahan air limbah
  • Kelangkaan air sehingga membutuhkan impor

Data pada SDG Index menunjukkan perkembangan yang baik, dilihat dari jumlah penduduk yang sudah menggunakan fasilitas sanitasi sendiri serta mendapatkan akses air minum. Hal ini terdorong oleh kesadaran mandiri warga akan pentingnya ketersedian fasilitas sanitasi yang layak. Serta upaya pemerintah untuk memperbaiki pengolahan air dan sanitasi pemukiman.

60% kasus stunting dan penurunan kecerdasan di Indonesia disebabkan tidak adanya Air Bersih dan Sanitasi Layak

Perjalanan Menuju Pencapaian SDGs pada 2030 Baru Separuh Jalan

Tersisa 8 tahun lagi untuk sampai ke 2030, tenggat akhir SDGs. Perjalanan aksi bersama warga global ini sudah separuh jalan. Waktu yang tersisa bisa terasa sangat cepat, terlebih jika masih banyak tujuan yang belum tercapai. Ambisi menuntaskan semua permasalahan (zero goals) membuat langkah menjadi berat. Apalagi perjuangan sempat melambat dengan situasi darurat pandemi. 

Momentum tren pertumbuhan pasca pandemi bisa dimaksimalkan untuk mengejar target capaian SDGs. Misi ini bukan hanya kewajiban pemerintah tetapi seluruh warga global harus ikut peduli dengan berpartisipasi aktif.

Yuk, wujudkan kepedulian dengan ikut serta membantu mewujudkan SDGs di Indonesia!

Baca Juga Artikel Lainnya