Bidang Wakaf

Wakaf adalah salah satu kegiatan sosial yang sangat dianjurkan bagi umat Islam, karena manfaatnya yang akan selalu mengalir, baik manfaat hasil di dunia bagi mereka yang membutuhkan, maupun manfaat di akhirat sebagai bekal si pemberi wakaf (wakif) bila ia telah meninggal dunia.

Harta Wakaf benar-benar memiliki manfaat yang akan selalu mengalir (amal jariyah), seperti bahtera (yang dalam bahasa arabnya disebut jariyah). Sebagaimana hadis Rasulullah SAW, “Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah (termasuk wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh.”( H.R Muslim no.1631).

Setiap kita memiliki harapan agar harta yang ada terus dijaga dan terjaga dengan baik dan benar. Dan Berwakaf adalah gerakan dalam rangka menjaga harta, bahkan “Menjaga Harta Sampai Ke Surga”.

Yayasan Bangun Kecerdasan Bangsa berperan sebagai Nazhir Wakaf yang tersertifikasi oleh Badan Wakaf Indonesia sejak 7 Agustus 2018. YBKB turut mendukung BWI yang dalam misinya sebagai lembaga professional yang mampu mewujudkan potensi dan manfaat ekonomi harta benda wakaf untuk kepentingan ibadah dan pemberdayaan masyarakat.

Gerakan “Jariyah Wakaf Produktif” YBKB tidak hanya untuk memenuhi permintaan masyarakat, tetapi juga untuk memberi dampak yang lebih luas lagi bagi masyarakat dalam mewujudkan kemaslahatan yang tidak hanya untuk Sosial dan Pendidikan tetapi juga untuk Pengembangan Ekonomi umat.

 

Sebagai permulaan, YBKB memfokuskan Wakaf melalui Uang (urunan uang untuk dibelanjakan menjadi harta wakaf) untuk lahan pertanian, dengan beberapa alasan sebagai berikut :

1. Kompleks dan Seriusnya Kebutuhan Masyarakat akan PANGAN SEHAT

Mengutip dari KOMPAS, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Hendriadi mengatakan bahwa Pembangunan Ketahanan Pangan dan Gizi meliputi penanganan yang kompleks dan membutuhkan sikap serius. Hal itu disampaikan beliau dalam acara workshop Pemantauan dan Evaluasi Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi Provinsi Regional Tengah dan Timur di Yogyakarta, pada tanggal 24 November 2017.

2. Minimnya LAHAN PERTANIAN TERPADU

Bapak Siswono Yudo Husodo menyampaikan bahwa meski Indonesia merupakan negara kepulauan, namun ternyata, lahan Indonesia dinilai masih memiliki dua masalah besar yakni selain dari luas lahan yang kecil, luas lahan per kapita nya pun juga kecil. Beliau tambah menjelaskan, bahwa luas lahan di Indonesia saat ini hanya sebesar 7,78 juta hektar (ha), dan bila dihitung luas lahan per kapita nya hanya sebesar 358,5 meter persegi (per kapita) .Beliau ungkapkan ini saat pembukaan Rembug Jagung Nasional 2017.

3. Minimnya EDUKASI MENJADI AGROPRENEUR

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengimbau pemerintah untuk menetapkan kebijakan yang efektif guna mengantisipasi penurunan jumlah petani di Indonesia. Hal itu disampaikan Kepala Penelitian CIPS Hizkia Respatiadi menyoroti fenomena banyak pemuda, generasi milenial ini yang tidak tertarik menjadi petani.

Hemat beliau bahwa perlu adanya kebijakan yang efektif untuk menangani pelemahan sektor pertanian nasional. Banyak anak-anak petani ini yang tidak mau kerja sebagai petani. Mereka enggan berkotor-kotor, yang malah lebih memilih untuk bekerja menjadi kuli bangunan atau buruh pabrik.

4. Impian untuk GREEN TOURISM

Kementerian Pariwisata melaporkan bahwa kunjungan wisatawan manca negara pada bulan Januari hingga Desember 2016 mencapai 4 juta.Lalu, Tahun 2017 bisa meningkat 25 persen atau 5 juta orang.Ini menandakan tingginya geliat pariwisata di Indonesia, khususnya Bali yang semakin menarik perhatian publik.

Dan Pariwisata yang menjadi upaya pelaksanaan pariwisata berkelanjutan (sustainable), salah satunya adalah green tourism. Ini lebih berfokus dalam penerapan kepedulian dan pelestarian sumber daya alam beserta sumber daya manusia.

YBKB berkeinginan untuk turut serta mengedukasi dan menggerakan masyarakat lebih sadar berwakaf. Mulai berwakaf dengan apapun harta wakaf yang mereka niatkan, sehingga harta memiliki manfaat yang terus mengalir (Amal Jariyah) dan terjaga sampai ke surga.

Barakallah, Walhamdulillahirobbil’alamin.

 

Referensi:

https://ekonomi.kompas.com/read/2017/11/24/173930926/pembangunan-ketahanan-pangan-dan-gizi-butuh-sikap-serius-ini-dia-pilarnya

https://nasional.kontan.co.id/news/luas-lahan-pertanian-Indonesia-masih-minim

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20171227083225-92-264920/petani-muda-minim-pemerintah-diimbau-buat-inovasi-kebijakan

http://bali-travelnews.com/2017/08/18/jaga-pariwisata-berkelanjutan-dengan-green-tourism/


Donasi via WhatsApp