Menurut Undang Undang Nomor 6 Tahun 2014, desa merupakan daerah otonom, mandiri dalam merencanakan, menyelenggarakan, dan melaksanakan pemerintahan. Berdasarkan definisi tersebut, desa merupakan salah satu wilayah administrasi terkecil untuk melaksanakan kegiatan pemerintahan.

Namun pada prakteknya, tidak semua desa sudah dapat dikategorikan desa mandiri yang seluruh penduduknya sejahtera. Bagi desa yang belum sepenuhnya mandiri dan sejahtera, tentunya masih membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat.

Jawa Barat sebagai salah satu provinsi terdekat dengan ibukota Jakarta masih memiliki banyak desa tertinggal. Saat ini, berdasarkan data Kementerian Pedesaan dan Daerah Tertinggal, pada tahun 2020 di Provinsi Jawa Barat untuk Desa Tertinggal terbanyak terdapat Kabupaten Garut (58 desa), Kabupaten Karawang (24 desa), Kabupaten Tasikmalaya (23 desa), Kabupaten Cianjur (16 desa tertinggal), Kabupaten Purwakarta (8 desa), Kabupaten Sukabumi (8 desa), Kabupaten Kuningan (4 desa), dan Kabupaten Cirebon (2 desa).

Pemerintah Pusat mengalokasikan dana desa sebesar Rp5,9 triliun untuk 5.312 desa di Jawa Barat (Jabar) pada 2020. Hal tersebut sesuai instruksi Presiden RI mengenai penggunaan dana desa diarahkan untuk menggerakkan sektor ekonomi produktif. Mulai dari pengolahan setelah panen, industri kecil di desa, budidaya perikanan, desa wisata, dan industrialisasi pedesaan yang mampu menjadi pengungkit ekonomi desa.

Menurut Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Jawa Barat, Bambang Tirtoyuliono, untuk mengatasi desa tertinggal, ada 3 strategi yang harus dilakukan. Pertama, menjalankan lembaga perekonomian desa dengan program One Village One Company Gerakan Membangun Desa (Gerbang Desa).

Kedua, membuat gerakan membangun desa dengan berbagai macam variabel, seperti dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Ketiga yakni digitalisasi desa. Mengenalkan desa kepada masyarakat di seluruh dunia melalui dunia digital.

Oleh karena itu, lanjut Bambang, untuk membangun sebuah desa mandiri harus menyamakan persepsi dulu antara pemerintah provinsi, pemerintah pusat, pemerintah kabupaten, dan beberapa lembaga keswadayaan masyarakat.

“Maka pemerintah kabupaten sampai pusat punya kewajiban mendorong untuk melaksanakan kemandiriannya tersebut, dengan cara melakukan pendampingan, pembinaan dan sebagainya,” ucap Bambang.

“Kita mengajak semua sektor menyamakan persepsi untuk mendorong supaya desa ini bisa mandiri, bisa membangun kemandiriannya dan desa sebagai daerah otonom, betul-betul bisa melaksanakan penyelenggaraan pemerintahnya dalam menyejahterakan masyarakatnya yang ada di desa, Konsep dasarnya seperti itu,” ucapnya.

Menyambut baik harapan tersebut dan sebagai wujud menjalankan strategi kedua yaitu membuat gerakan membangun desa, sebagai salah satu Yayasan sosial, Yayasan Bangun Kecerdasan Bangsa (YBKB) menginisiasi program Desa Binaan. Menindak lanjuti data mengenai banyaknya desa tertinggal dari Kementerian Pedesaan dan Daerah Tertinggal, YBKB membuat langkah awal mengembangkan Desa Binaan di Kabupaten Sukabumi dan Tasikmalaya.

Mengembangkan desa binaan merupakan pilihan yang tepat dan strategis untuk kepentingan pembangunan nasional. Program ini diyakini akan memberikan dampak positif, yaitu membina sumber daya manusia di pedesaan dengan pendekatan pendidikan.

Lokasi salah satu Desa Binaan Yayasan Bangun Kecerdasan Bangsa terdapat di Desa Ciemas Jl Raya Ciemas, Desa Ciemas, Kecamatan Ciemas, kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB), permasalahan perkembangan desa yang terjadi di Kabupaten Sukabumi terjadi akibat strategi pembangunan yang sangat bias kota, serta fokus pembangunan pada infrastruktur jalan maupun sarana pelengkap lainnya.

Selain itu, paradigma pembangunan yang masih berkutat pada permasalahan makro serta percepatan pertumbuhan ekonomi melalui industrialisasi dan investasi yang bersifat mengeksploitasi telah mendorong terjadinya ketergantungan desa terhadap investasi dan industri formal. Sehingga untuk menjadi desa mandiri semakin sulit.

Permasalahan terkait pembangunan sumber daya manusia pun sering abai dilakukan, terlihat dari porsi dana pembangunan yang lebih menitikberatkan pembangunan infrastruktur (terutama jalan) daripada pembangunan manusia (pemberdayaan) dengan perbandingan 70:30.

Strategi pembangunan yang dilakukan selama ini dianggap telah mengesampingkan sisi humanis dan nilai-nilai kearifan lokal. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan temuan di lapangan yang dilakukan oleh relawan YBKB di Desa Ciemas, Kabupaten Sukabumi.

“Majunya Desa itu kan dari perekonomiannya. Bukan infrastruktur, kita bikin jalan sendiri juga bisa. Lagi corona begini ngapain bangun infrastruktur. Yang diharapkan sama masyarakat sekarang isi perut,” ujar Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Ciemas, bapak Hamid.

Bermula dari penyaluran hewan qurban pada Idul Adha 1 Agustus 2020 dan program penyaluran Sedekah beras di Desa Ciemas pada 27 November 2020 lalu di Desa Ciemas, YBKB menangkap aspirasi masyarakat untuk bisa lebih mandiri dengan memanfaatkan kearifan lokal. Tidak lagi hanya menerima manfaat secara terus menerus, tapi juga mampu menjadi lebih berdaya secara ekonomi sehingga dapat hidup lebih mandiri dan tentunya sejahtera.

Pembangunan yang menjadikan potensi lokal sebagai basis utama industrialisasi adalah sebuah upaya untuk dapat memaksimalkan potensi pembangunan Sumber Daya Manusia di Desa Ciemas, Kabupaten Sukabumi. Oleh karena itu, YBKB mencanangkan program Pemberdayaan Ekonomi bagi masyarakat Desa Ciemas.

Kepala Desa Ciemas, Bapak Dede Rukmana menyambut baik diadakannya program Pemberdayaan Ekonomi oleh Yayasan Bangun Kecerdasan Bangsa dalam menciptakan Pangan Sehat, Keluarga Kuat. Sebagai langkah awal, pada Senin 28 Desember 2020 lalu diresmikan sebuah lumbung ternak yang diperuntukkan sebagai sarana memperluas peternakan kambing dan juga sapi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Ciemas.

Secara statistik, jumlah ternak yang ada di Desa Ciemas hanya 480 hewan ternak. Dengan jumlah rinci sebanyak 2 ekor sapi, 66 kambing dan 342 domba. Jumlah ini terbilang cukup kecil jika dibandingkan dengan jumlah ternak yang dikelola oleh Desa lain yang ada di Kabupaten Sukabumi. Harapannya, Lumbung Ternak yang berlokasi di Lapangan Tribuana Bakti ini dapat membantu masyarakat Desa Ciemas untuk dapat lebih mandiri dan berdaya melalui peternakan.

“Kami berharap ada kemajuannya dalam peternakan, apalagi nanti ada pengembangan pertanian. Kalau petani di sini kan terbatas. Utamanya karena penunjang dana belum ada. Harapannya ke depannya kami bisa lebih mandiri lagi.” ujar Mang Jejen, Ketua Kelompok Tani yang menaungi sekitar 60 Kepala Keluarga di Desa Ciemas, Kecamatan Ciemas, kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Menangkap aspirasi tersebut, ke depannya tidak hanya peternakan kambing ataupun sapi yang akan termasuk ke dalam program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa Ciemas. Pengelolaan lahan pertanian  juga akan menjadi langkah selanjutnya.

Mang Jejen pun mengungkapkan harapannya bahwa ia ingin mengembangkan lahan pertanian seperti sereh wangi, pisang, tumpang sari hingga porang. Saat ini ia sudah mengembangkan kualitas hasil taninya hingga memenuhi kualitas ekspor. Kerja sama dengan pihak eksportir yang berlokasi di Jawa Timur pun sudah dilakukan.

“Dengan niat bapak ibu yang bagus, Mudah-mudahan Allah merestui. Tujuannya membantu masyarakat Ciemas,” kata Bapak Hamid, ketua BPD Ciemas.

Kepala Desa atau disebut juga Lurah Ciemas, Bapak Dede Rukmana, pada peresmian Lumbung Ternak pun menyebutkan, ia berharap pada tahun 2021 Desa Ciemas dapat menjadi Desa Model atau Desa Percontohan bagi desa lain yang ada di Kabupaten Sukabumi. Namun, ia juga menyatakan kekhawatirannya akan kondisi pemuda sebagai generasi penerus yang ada di Desa Ciemas.

Desa Ciemas memiliki luas sebesar 1.567 Ha, dengan tanah gembur dan suhu dingin, namun kualitas sumber daya manusianya, terutama pemuda masih belum memiliki keinginan kuat untuk memajukan desa dan kualitas kesejahteraan masyarakat.

Desa Ciemas juga memiliki jumlah penduduk sebesar 5.575 jiwa. Dari 2.700 KK yang ada di Desa Ciemas, terdapat 29 murid TK, 698 murid SD, dan 164 murid SMP. Berdasarkan data ini, sebagai wujud membangun kemandirian berpikir generasi penerus desa Ciemas, YBKB juga memiliki program pembangunan Taman Baca untuk Desa Binaan Ciemas. Direncanakan Taman Baca tersebut akan berlokasi di TK Tunas Karya, Kebun Pasir Badak, Desa Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Semoga Program Pemberdayaan Ekonomi di Desa Ciemas sebagai salah satu Desa Binaan YBKB dapat berjalan dengan lancar dan mampu membuat masyarakat Desa Ciemas menjadi lebih mandiri, berdaya dan tentunya sejahtera.


  Kembali