Pangan menjadi sebuah kebutuhan primer bagi manusia yang tidak bisa ditunda. Namun, kenyataannya saat ini jutaan orang berpotensi mengalami krisis pangan. Krisis pangan semakin meningkat karena terjadi konflik di beberapa negara, perubahan iklim dan pandemi Covid-19 yang membuat harga bahan pangan meningkat tajam. 

Dikutip dari dw.com, World Food Programme (WFP) menyebutkan bahwa ada sekitar 270 juta orang di dunia yang terancam mengalami kelaparan akut di tahun 2021. 

Di Indonesia, sejak awal Januari 2021, beberapa wilayah di Indonesia mengalami berbagai bencana seperti gempa bumi dan banjir. Hal ini berpengaruh kepada hasil panen yang berkurang atau bahkan gagal sehingga menyebabkan kenaikan harga bahan-bahan pangan. 

Contohnya seperti banjir yang terjadi di awal Januari 2021, membuat beberapa daerah produsen cabai terganggu. Permintaan cabai yang terus meningkat, namun supply terbatas karena pasokan yang terganggu akibat banjir, akhirnya membuat harga cabai meningkat. Bahkan harga cabai sempat ada di angka Rp140.000,- dan lebih mahal daripada harga daging sapi yang ada di angka Rp120.000,-.

Pandemi Covid-19 pun berdampak banyak dengan menurunnya daya beli masyarakat yang terdampak dari segi bisnis atau para karyawan diberhentikan dari pekerjaannya. Hal semakin membuat masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. 

Namun, dibalik duka akibat Pandemi Covid-19, ada sisi terang yang terjadi di Indonesia, di daerah perkotaan khususnya. Tren urban farming meningkat tajam sejak diberlakukannya PSBB di awal masuknya virus dari Wuhan, China. Banyak orang-orang di perkotaan yang menyibukkan diri dengan melakukan urban farming di rumah. 

Urban Farming

Urban farming adalah kegiatan budidaya atau distribusi bahan pangan di dalam perkotaan. Kegiatan urban farming ini tidak hanya melibatkan cocok tanam, namun juga peternakan dan budidaya perairan. 

Urban farming berkaitan erat dengan orang-orang yang ingin menjalani gaya hidup sehat. Mengapa? Karena hasil dari urban farming menggunakan sistem organik yang tidak menggunakan pupuk kimia maupun pestisida sintetis. Sehingga lebih sehat bagi tubuh. 

Selain itu, kegiatan urban farming diyakini dapat membuat pelakunya merasa lebih segar dan rileks. Dilansir dari hellosehat.com, Tim Lang. PhD, profesor kebijakan pangan dari City University, London, menyebutkan jika seseorang melakukan kontak langsung secara rutin dengan tanaman, hewan dan lingkungan, mereka dapat meningkatkan kesehatan fisik dan mental mereka. 

Kegiatan urban farming ini pun mampu menjaga ketahanan pangan. Jika setiap rumah menerapkan urban farming di rumah, mereka mampu memenuhi kebutuhan pangan seperti sayur mayur dan buah-buahan yang mereka tanam sendiri. Selain itu, keluarga dapat lebih hemat karena sayur dan buah organik yang ditanam sendiri jauh lebih murah daripada harus membeli produk organik. 

Dikutip dari wired, ada sebuah penelitian di Arizona State University oleh profesor Matei Georgescu, jika urban farming dilakukan secara penuh di seluruh kota besar yang ada di dunia, dapat dihasilkan sekitar 180 juta ton bahan makanan dalam 1 tahun. Angka 180 juta ton senilai dengan 10% dari total hasil produksi makanan secara global. 

Tahukah kamu jika urban farming dapat membuat kita berhemat sekitar 15 miliar kilowatt per jam untuk pemakaian energi dunia selama setahun dan menghasilkan sekitar 170.000 ton nitrogen ke udara? Hal ini sama dengan mencegah turunnya 57 juta meter kubik limpasan badai yang mencemari sungai dan saluran air bersih. 

Selain mampu memenuhi kebutuhan pangan di rumah tangga dan berhemat, kegiatan urban farming mampu menjadi salah satu solusi sebagai sumber penghasilan. Harga sayur dan buah organik di pasaran lebih mahal daripada sayur dan buah yang ditanam secara konvensional. Mengapa? Karena bentuk perawatan sayur dan buah organik yang lebih alami dan tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida sintetis. 

Hidroponik

Salah satu bentuk urban farming yang banyak dipraktekkan saat ini adalah dengan sistem hidroponik. Hidroponik sendiri adalah sistem pertanian yang dilakukan dengan media tanam air. 

Konsep budidaya dengan hidroponik ini lebih fokus ke pemenuhan kebutuhan nutrisi pada tanaman melalui media air yang berisi larutan nutrient

Berikut beberapa kelebihan urban farming dengan menggunakan hidroponik:

  • Dapat dibudidayakan di lahan sempit, seperti atap rumah atau halaman samping. 
  • Kecil risiko terhadap banjir atau kekeringan. 
  • Beberapa tanaman dapat dibudidayakan di segala musim. 
  • Tanaman lebih terjaga kebersihannya.
  • Hasil produksi dapat lebih tinggi daripada dengan menggunakan sistem tanam konvensional. 
  • Adanya standarisasi untuk proses penanamannya. 
  • Tidak membutuhkan SDM yang banyak untuk perawatannya. 
  • Efisien karena tidak menggunakan pupuk kimia. 
  • Harga jual tanaman hidroponik lebih tinggi daripada tanaman yang tidak menggunakan sistem hidroponik. 

 

Mandirikan Yatim dengan Hidroponik

Sayangnya, krisis pangan dan kenaikan harga pangan ini juga berdampak kepada para anak yatim binaan YBKB. Banyak dari keluarga mereka terdampak secara perekonomian.

Hal inilah yang membuat tim bidang YBKB Environment Savior (YES) berinisiatif untuk membuat program “Mandirikan Yatim dengan Hidroponik” yang dapat membuat para yatim binaan YBKB dapat mandiri, baik secara diri maupun ekonomi. 

Program “Mandirikan Yatim dengan Hidroponik” yang akan mulai dilaksanakan di Bulan Agustus 2021 diharapkan dapat membuka peluang untuk meningkatkan perekonomian bagi para yatim binaan YBKB yang akan dilibatkan langsung dalam program tersebut. 

Kami yakin, dengan memberikan pelatihan dan kemampuan bagi para yatim binaan YBKB, disaat mereka dapat menjadi pribadi yang mandiri dan mampu untuk berdiri sendiri secara pribadi dan ekonomi. 

Selain meningkatkan perekonomian, diharapkan program ini dapat mendukung program pemerintah dengan membentuk kemandirian produksi pangan pada masyarakat sehingga dapat mencegah terjadinya krisis pangan. 

Kegiatan Program “Mandirikan Yatim dengan Hidroponik” akan dilaksanakan di Kantor Sekretariat YBKB yang berada di Jl. Raya Tengah No.22, RT.8/RW.8, Gedong, Kec. Ps. Rebo, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13760. Program ini akan dimulakan di tanggal 28 Agustus 2021. 

Program ini akan dimulai dengan membuat instalasi hidroponik dengan menggunakan dutch bucket system yang sesuai untuk menanam buah di lokasi yang disebutkan di atas. 

Insya Allah setelah instalasi hidroponik setelah dibuat, kemudian akan dilanjutkan dengan pembuatan pergola dan pelatihan dan perawatan tanaman hidroponik yang akan dilakukan oleh adik-adik yatim binaan YBKB hingga panen raya di Bulan November 2021. 

Mohon doa dan  dukungan para sahabat Dermawan YBKB agar program “Mandirikan Yatim dengan Hidroponik” dapat terselenggara dengan baik dan lancar. Aamiin ya rabbal’alamiin. 

Kami membuka pintu selebar-lebarnya bagi para sahabat Dermawan yang ingin memberikan uluran tangan dan menyisihkan sedikit rezekinya untuk mendukung program ini agar dapat berjalan dengan baik dan lancar. Aamiin ya rabbal’alamiin. 

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (An Nisa Ayat 9)


  Kembali